Manfaat Menulis

Menulis merupakan kegiatan yang sangat mudah dan bisa dilakukan oleh siapapun. Jangan katakan bahwa menulis itu adalah hal yang sulit. Sesungguhnya menulis merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bayangkan saja, bila di negri ini tidak ada para penulis ataupun orang – orang yang mau menggeluti dunia tulis menulis, maka berbagai informasi tidak akan kita dapatkan.

Lihat saja anak – anak kecil yang baru masuk TK, mereka dengan asyiknya belajar menulis. Bahkan sebelum anak – anka masuk TK saja mereka sudah belajar pegang buku dan pensil yang kita kenal sebagai alat tulis. Hal tersebut menunjukan bahwa menulis bisa dilakukan oleh siapapun. Bahkan anak kecil sekalipun bisa menulis. Akan sangat lucu sekali andaikata kaum pelajar tak mau berkonstribusi dalam bentuk tulisan. Bagaimana negri ini bisa maju bila tak ada transfer pengetahuan melalui tulisan.

Banyak orang menyepelekan tulis menulis, namun jangan dianggap enteng ternyata dunia tulis menulis bisa menghasilkan pendapatan atau meningkatkan keuangan seseorang. Kita lihat saja para penulis handal dan terkenal, mereka mampu mendapatkan uang berjuta –juta, bahkan miliaran rupiah. Hal tersebut dilatar belakangi dari dunia tulis menulis.

Ada berbagai alasan mengapa dunia tulis menulis perlu digeluti. Bahkan negara amerika yang merupakan negara maju saja, mereka menyuruh para pengendara taxi untuk melaporkan apapun yang mereka temui dalam bentuk tulisan. Hal ini berarti bahwa tulis menulis merupakan hal yang penting.

Banyak hal yang bisa didapat dari menulis. Orang tidak akan dikatakan besar bila tak mampu mengeluarkan sebuah karya. Saya yakin semua orang di dunia ini pintar menulis, kecuali orang – orang buta huruf yang dikatakan tak mampu menulis. Semua orang bisa menulis, siapapun dia, dimanapun orang itu berada dan seperti apapun kondisinya asalakan dia bukan orang yang buta huruf. Sudah barang pasti dia mampu menulis.

Sekarang yang menjadi permasalahan adalah tulisan seperti apa yang harus kita kontribusikan? Tentunya tulisan yang berguna dan bermanfaat bagi orang – orang yang ada di sekeliling kita. Kita tidak perlu muluk – muluk untuk menjadi penulis handal atau terkenal, tapi menulislah sebagai kontribusi kita untuk kehidupan dan orang – orang yang ada di sekeliling kita. Kalaupun kita nanti terkenal dengan hasil tulisan kita, maka anggap saja itu adalah bonus dari kontribusi kita selama ini. Maka dengan begitu kita tidak merasa terbebani dalam menulis.

Ada banyak manfaat yang bisa diambil dari menulis. Manfaat menulis bisa dirasakan bukan hanya untuk si penulis saja, namun untuk para pembaca juga sangat bermanfaat. Diantara manfaat menulis adalah:

1.      Manfaat Bagi si Penulis

a)      Penyimpan memori.

Maksudnya disini kita bisa menggunakan tulisan kita terdahulu untuk pengingat bagi kita jika kita lupa. Dengan menulis kita bisa melihat catatan kembali dan bisa mengingat kembali keadaan – keadaan yang mungkin kita lupakan. Hal ini terutama bagi para pelajar yang terbiasa menghafal pelajaran dan dituntut untuk mengingat pelajarannya. Atau bisa juga bagi para pebisnis, tak jarang mereka menggunakan jasa para sekertarisnya untuk mencatatat apa yang harus dilakukannya dimasa yang akan datang atau beberapa jam kemudian.

b)      Menghilangkan rasa sumpek dan bosan.

Disaat kita merasa bosan dan suntuk, mengapa kita tidak beralih ke hal tulis menulis ketimbang memilih masuk ke bar. Justru disaat suntuk itulah kita bisa mencurahkan isi perasaan kita selama ini dalam bentuk tulisan. Kalau tidak percaya silahkan anda coba. Setelah anda menulis saya yakin anda akan merasa lebih lega. Jujur saja saya dulu tidak pernah terfikir untuk menulis, namun sekarang menulis bagi saya sudah menjadi kebiasaan sehari – hari. Ternyata menulis itu bisa menghilangkan rasa suntuk. Ingat saat anda menulis, anda tidak perlu serius – serius amat, namun nikmati saja.

c)       Menulis sebagai pendapatan.

Kenapa tidak kita berfikir lebih maju. Ketimbang kita menunggu pekerjaan yang belum jelas juntrungannya, lebih baik kita menulis. Mungkin saja tulisan kita suatu hari nanti bisa laku jual atau laku dipasaran dan bisa menghasilkan pendapatan. Orang – orang terkenal di luar sana dan para penulis novel, mereka beranjak menulis dari nol seperti kita. Kalau mereka mampu kenapa kita tak mampu?

2.      Manfaat Bagi Pembaca

  • Sebagai penambah wawasan.

Pengetahuan yang dimiliki seseorang itu berbeda – beda. Ketika kita menulis mungkin saja tulisan kita bermanfaat bagi orang lain, sekecil apapun tulisan kita. Maka dari itu jangan berhentii menulis. Bagi yang tidak suka menulis, tidak ada salahnya jika anda mulai menyukai menulis, karena selain bisa mengasah otak kita, ternyata menulis bisa bermanfaat bagi orang lain. bayangkan saja bila tak ada orang yang mau menulis di dunia ini, kita akan mendapatkan informasi dan pengetahuan dari mana? Bagaimana dengan nasib anak – anak kita ke depannya bila tak ada hasil karya dalam bentuk tulisan.

Dengan Segala Keterbatasan

Tidak semua orang terlahir dengan sempurna, namun tidak ada alasan bagi kita bahwa ketidak sempurnaan akan menghalangi jalan kita menuju pada kesuksesan. saat kita terlahir ke dunia maka saat itu pula kita dianugrahi sebuah harapan yang terpatri dalam bathin kita. banyak orang – orang sukses terlahir dari sebuah keluarga yang mempunyai keterbatasan latar belakang ekonomi, namun mereka tak pernah putus asa. kadang keterbatasan membuat kita terus berusaha untuk mencapai dan menggapai apa yang kita inginkan dengan sangat gigih. tak jarang pula orang yang mengalami berbagai penderitaan mereka mengarungi dan mengantongi uang dari penderitaan itu andaikan mereka bisa memanfaatkan moment tersebut, katakan saja para penulis besar mereka mampu menulis dengan sangat bagus dan menyentuh karena sebagian besar dari kisah yang mereka tulis adalah pengalaman yang mereka alami. jika orang lain mampu mengembangkan dirinya lewat keterbatasan dan dari segala kekurangannya kenapa kita tidak bisa????

Makalah Faham Kaum Khawarij

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1        Latar Belakang Masalah

Pemahaman terhadap berbagai paham – paham dalam kancah dunia Islam merupakan hal yang sangat penting. Islam sering digonjang ganjing dengan paham yang setengah – setengah dan menjadi salah kaprah.

Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin rusaknya moral para penghuni dunia ini maka tidak ada salahnya untuk menjaga diri kita dan membentengi akidah kita maka pemahamn terhadap paham – paham yang ada dalam Islam sangatlah perlu. Salah satunya dari paham – paham yang ada adalah paham kaum Khawarij.

1.2        Rumusan Masalah

Dari uraian diatas kita dapat merumuskan bahwa:

  1. Apa yang dimaksud dengan kaum Khawarij?
  2. Bagaimana latar belakang munculnya paham kaum Khawarij?
  3. Bagaimanakah paham teologi kaum Khawarij?
  4. Bagaimanakah Sub – Sub sekte dalam paham kaum Khawarij?
  5. Adakah i’tikad kaum Khawarij yang bertentangan dengan kaum Ahlussunah Wal Jamaah?

1.3        Tujuan Masalah

Adapun tujuan masalah yang ada dalam pembahasan makalah ini adalah:

  1. Mengetahui yang dimaksud dengan kaum Khawarij.
  2. Mengetahui latar belakang munculnya paham kaum Khawarij.
  3. Memahami paham teologi kaum Khawarij.
  4. Mengetahui Sub – Sub sekte dalam Khawarij
  5. Mampu mengetahui i’tikad kaum Khawarij yang bertentangan dengan kaum Ahlussunah Wal Jamaah.

 

BAB II

PAHAM KAUM KHAWARIJ

 

2.1        Arti Kata Khawarij

Nama “Khawarij” berasal dari kata “kharaja” yang berarti: keluar. Nama tersebut diberikan kepada mereka karena mereka menyatakan diri keluar dari barisan Ali dalam persengketaannya dengan Mu’awiyah yang terjadi pada saat peperangan Siffin.

Ada pula pendapat lain yang mengatakan, bahwa pemberian nama “Khawarij” tersebut didasarkan pada ayat 100 dari surat An-Nisa yang artinya : “ Dan barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dengan demikian kaum Khawarij memandang diri mereka sebagai kaum yang berhijrah meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya untuk memperoleh pahala dari Allah SWT.

2.2        Latar Belakang  Munculnya Kaum Khawarij

Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah, bahwa Nabi Muhammad di samping sebagai Rasul beliau juga pemimpin umat, sebagai kepala Negara. Ini berarti bahwa Islam disamping sebagai system agama, juga sebagai system politik, yang mengatur tentang ketatanegaraan.

Oleh karena itu tidak mengherankan, kalau pada waktu Nabi Muhammad wafat, masyarakat Madinah menjadi bingung memikirkan pengganti beliau untuk mengepalai Negara Islam yang belum lama berdiri.

Maka timbullah masalah besar bagi mereka, yaitu siapakah yang akan menggantikan Nabi Muhammad sebagai kepala Negara. Masalah ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai masalah khilafah. Sebagai Nabi atau Rasul, mereka tidak mempersoalkannya, sebab Nabi atau Rasul itu tidak dapat digantikan.

Dalam sejarah kita ketahui bahwa masyarakat Islam pada waktu itu menyetujui Abu Bakar sebagai pengganti Nabi Muhammad dalam mengepalai Negara mereka. Karena itu Abu Bakar dikenal sebagai khalifah pertama. Kemudian Abu Bakar digantikan oleh Umar ibn al-Khatab sebagai khalifah kedua, dan kemudian Umar digantikan oleh Usman ibn Affan sebagai khalifah ketiga.

Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, Usman termasuk dalam golongan pedangan Quraisy yang sangat kaya. Kaum keluarganya terdiri dari orang-orang aristokrasi Mekkah, yang karena pengalaman dagang, mereka mempunyai pengetahuan tentang administrasi. Pengetahuan mereka ini sangat bermanfaat dalam mengelola administrasi daerah- daerah di luar semenanjung Arabia, yang semakin lama semakin bertambah banyak masuk ke bawah kekuasaan Islam. Gubernur-gubernur yang diangkat oleh Umar ibn al- Khattab, khalifah yang terkenal sebagai orang kuat dan tak memikirkan kepentingan sendiri atau kepentingan keluarganya itu dijatuhkan oleh Usman.

Tindakan-tindakan politik yang dijalankan Usman ini sudah barang tentu menimbulkan reaksi yang tidak menguntungkan bagi khalifah Usman sendiri. Sahabat-sahabat Nabi yang mulanya menyokong Usman, ketika melihat tindakan yang kurang tepat itu, mulai meninggalkan khalifah yang ketiga ini. Orang-orang yang semula ingin menjadi khalifah mulai pula menangguk di air keruh yang timbul pada waktu itu. Perasaan tidak senang muncul di daerah-daerah. Dari Mesir sebagai reaksi terhadap dijatuhkannya Umar ibn al-As yang diganikan oleh Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarh, salah satu anggota kaum keluarga Usman, sebagai Gubernur Mesir, lima ratus pemberontak bergerak ke Madinah. Perkembangan suasana di Madinah selanjutnya menimbulkan pembunuhan terhadap Usman, yang dilakukan oleh pemuka-pemuka pemberontakan dari Mesir.

Setelah Usman wafat, maka Ali menjadi khalifah yang keempat. Tetapi ia mendapat tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin pula menjadi khalifah, terutama Talhah dan Zubair dari Mekkah, yang mendapat sokongan dari Aisyah. Tantangan dari Aisyah-Talhah Zubair ini dapat dipatahkan oleh kekuatan Ali. Dalam pertempuran yang terjadi di Irak pada tahun 656 M. Talhah dan Zubair mati terbunuh dan Aisyah dikirim kembali ke Mekkah.

Selanjutnya Al-Tabari menerangkan, bahwa tantangan kedua datang dari Mu’awiyah. Gubernur Damaskus dan keluarga dekat Usman. Seperti halnya Talhah dan Zubair, ia tak mau mengakui Ali sebagai khalifah. Ia menuntut kepada Ali agar ia menghukum orang-orang yang membunuh Usman. Bahkan ia menuduh Ali turut campur dalam pembunuhan itu. Salah seorang pemuka pemberontak Mesir yang datang ke Madinah dan kemudian membunuh Usman adalah Muhammad ibn Abi Bakr, anak angkatnya Ali bin Abi Thalib. Lagi pula Ali nampak tidak mengambil tindakan keras terhadap kaum pemberontak itu, bahkan Muhammad ibn Abi Bakr diangkat oleh Ali menjadi Gubernur Mesir.

Dalam pertempuran yang terjadi antara kedua golongan ini dalam perang “Siffin”, pasukan Ali dapat mendesak pasukan Mu’awiyah. Tetapi tangan kanan Mu’awiyah, yaitu Amr ibn al-‘As, yang terkenal sebagai orang yang sangat licik, minta berdamai dengan mengangkatkan Quran keatas. Qurra’ yang ada di pihak Ali mendesak Ali supaya menerima tawaran itu, dan dengan demikian dicarinyalah perdamaian dengan mengadakan arbitrase (tahkim). Sebagai arbiters diangkatlah dua orang, yaitu Amr ibn al-As dari pihak Mu’awiyah dan Abu Musa al-Asy’ari dari pihak Ali. Dalam pertemuan mereka, kelicikan Amr ibn al-‘As dapat mengalahkan Abu Musa yang terkenal sangat takwa.

Karena tidak setuju dengan sikap Ali bin Abi Thalib yang menerima “tahkim” (arbitrase) sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaannya dengan Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan maka pengikut Ali yang tidak setuju dengan penerimaan “tahkim”,  mereka menyatakan keluar dari pengikut Ali bin Abi Thalib. Kaum inilah yang disebut dengan kaum Khawarij.

Kaum khawarij terkenal kaum yang keras, tidak pandai berminyak air. Mereka berjuang mati – matian untuk menegakan fahamnya dan memberikan pengorbanan apa saja, sampai kepada jiwanya, dalam menegakan fahamnya.

Adapun nama-nama lain bagi kaum Khawarij adalah sebagai berikut:

  1. Selanjutnya mereka menyebutkan diri mereka sebagai kaum “Syurah”, yang berasal dari kata “Yasyri” yang berarti menjual. Penyebutan nama tersebut didasarkan pada Surat Al-Baqarah ayat 207, yang artinya : “Dan di antara segolongan manusia ada yang menjual dirinya untuk memperoleh keridhaan Allah, dan Allah itu Maha Pengasih kepada hamba-hamba- Nya”.
  2. Mereka seringkali disebut juga “Haruriyah” yang berasal dari “Harura”, yaitu nama sebuah desa di dekat kota Kufah di Irak. Di tempat inilah mereka yang pada waktu itu berjumlah 12.000 orang  berkumpul, setelah memisahkan diri dari barisan Ali bin Abi Thalib sebagai anti dari Ali. Dalam pertempuran dengan kekuatan Ali mereka mengalami kekalahan besar, tetapi akhirnya seseorang yang bernama Abdurraahman bin Muljam  dapat membunuh Ali bin Abi Thalib.

Pada saat  itu pengikut kaum Ali bin Abi Thalib harus memusatkan perhatiannya untuk menghancurkan kaum Khawarij itu terlebih dahulu. Tetapi setelah mereka ini kalah, pasukan Ali merasa sudah terlalu capai untuk meneruskan pertempuran dengan pasukan Mu’awiyah. Karena itu Mu’awiyah tetap berkuasa di Damaskus, dan setelah Ali ibn Abi Thalib wafat. Mu’awiyah dengan mudah dapat memperoleh pengakuan sebagai Khalifah Umat Islam pada tahun 661 M.

Walaupun kaum khawarij mengalami kekalahan besar, namun mereka dapat menyusun kembali barisan mereka untuk meneruskan perlawanan mereka terhadap kekuasaan Islam resmi, baik di zaman dinasti Bani Umayyah, maupun di zaman kekuasaan dinasti Bani Abbas. Pemegang-pemegang kekuasaan yang ada pada waktu itu mereka anggap telah menyeleweng dari Islam, karena itu menurut mereka harus ditentang dan dijatuhkan.

Setelah Saidina Ali sebagai Khalifah ke IV meninggal terbunuh dan setelah Saidina Hasan bin Ali menyerahkan Khalifah kepada Saidina Muawiyah serta setelah Saidina Husein meninggal di Padang karbella maka kaum Khawarij tidak bertambah mundur, tetapi tambah beringas dan bertambah garang melawan kekuasaan Saidina Mu’awiyah. Mereka membangun organisasi mereka dengan rapi. Gerakan Khawarij menjadi bercabang dua yaitu:

  1. Bermarkas negeri Bathaih yang dikepalai oleh Nafi’ bin azraq dan Qathah bin Faja’ah. Mereka mengontrol kaum khawarij yang berada di Persia dan satu lagi di Kiraman untuk daerah – daerah di sekeliling Irak.
  2. Bermarkas di Arab daratan yang menguasai kaum Khawarij yang berada di Yaman, Hadharamaut dan thaif. Adapun markas ini dikepalai oleh Abu Thaluf, Najdah bin ‘Ami dan Abu Fudaika.

Mulanya kaum Khawarij hanya mempersoalkan Khalifah dan tahkim, tetapi kemudian merembet – rembet kepada soal – soal i’tikad dan kepercayaan, sehingga dalam dunia islam terbentuk suatu faham yang dinamakan Faham “Khawarij” .

2.3        Paham Teologi Kaum Khawarij

Prof. Dr. Harun Nasution menyatakan bahwa menurut Abu Zahrah, timbulnya paham teologi dalam kalangan kaum khawarij bermula dari paham mereka dalam masalah-masalah politik/ketatanegaraan.

Dalam lapangan ketatanegaraan mereka memang mempunyai paham yang berlawanan dengan paham yang ada pada waktu itu. Mereka lebih bersifat demokratis, karena menurut mereka Khalifah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam, yang berhak menjadi Khalifah itu bukan hanya anggota suku bangsa Quraisy, bahkan juga bukan hanya orang Arab saja, tetapi siapa saja orang Islam yang sanggup dan mampu, walaupun ia seorang hamba yang berasal dari Afrika. Khalifah yang terpilih akan terus memegang jabatannya selama ia masih bersikap adil dan menjalankan syariat Islam. Tetapi kalau ia sudah menyimpang dari ajaran-ajaran Islam, maka ia wajib dijatuhkan atau dibunuh.

Selanjutnya di dalam kitabMaqalat disebutkan, bahwa dalam hubungannya dengan khalifah-khalifah yang empat, maka khalifah atau pemerintah Abu Bakar dan Umar ibn al- Khattab seluruhnya dapat mereka terima, karena kedua khalifah tersebut diangkat dan tidak nyeleweng dari ajaran- ajaran Islam.

Akan tetapi pada pemerintahan Ali ibn Abi Thalib, menurut pandangan mereka Ali telah menyeleweng dari ajaran Islam sejak terjadinya peristiwa arbitrase (tahkim) sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan tentang khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan.

Karena itu Usma dan Ali menurut pandangan mereka telah menjadi kafir. Demikian pula Mu’awiyah, Amr ibn al ‘As, Abu Musa al-Asy’ari dan semua orang yang mereka anggap telah menyimpang atau menyeleweng dari ajaran Islam yang benar.

Dengan demikian dalam kalangan kaum khawarij mulai memasuki persoalan “kufr”: siapakah yang disebut “kafir”, dan mereka anggap tidak keluar dari Islam, dan siapa pula yang disebut “mukmin”, dan mereka anggap tidak keluar dari Islam.

Persoalan-persoalan serupa ini bukan lagi merupakan persoalan politik, tetapi sudah berubah menjadi persoalan teologi.

Pendapat tentang siapa yang sebenarnya masih dipandang sebagai orang Islam, dan siapa yang telah keluar dari Islam dan dipandang sebagai orang kafir, serta soal-soal yang bersangkut-paut dengan ini, dikalangan kaum khawarij tidak selamanya sama, sehingga timbullah beberapa golongan kecil atau sub-sub sekte dalam kalangan khawarij. Dalam kitab Al- Milal waal-Nihal Al-Baqdadi, mereka terpecah menjadi 20 sub sekte, bahkan menurut Al-Asy’ari, mereka terpecah menjadi sub-sub sekte yang jumlahnya lebih besar lagi.

Prof. Dr. Harun Nasution menambahkan bahwa kaum Khawarij itu pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. Mereka hidup di padang pasir yang tandus, yang membuat mereka bersifat sederhana dalam cara hidup dan pemikiran mereka, tetapi mereka sangat keras hati dan berani serta bersikap merdeka, tidak mau tergantung pada orang lain. Agama tidak membawa perubahan dalam sifat-sifat ke Badawian. Mereka telah bersikap bengis, suka kekerasan dan tak gentar mati. Sebagai orang Badawi, mereka tetap jauh dari ilmu pengetahuan. Ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis, mereka artikan menurut lafadznya dan harus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman dan pemahaman mereka sangat sederhana, sempit dan fanatic. Iman mereka tebal, tetapi pandangan mereka sempit ditambah dengan sikap mereka yang fanatic, ini membuat mereka tidak dapat mentolerir hal-hal yang kelihatannya menyimpang dari ajaran Islam menurut paham mereka.

Inilah nampaknya yang menjadi faktor penyebab mengapa kaum khawarij terpecah-pecah menjadi golongan-golongan kecil, dan mengapa mereka terus-menerus bersikap mengadakan perlawanan terhadap penguasa-penguasa Islam dan umat Islam yang ada di zaman mereka.

2.4        Sub – Sub sekte dalam Kaum Khawarij

Diantara sub-sub sekte dari aliran khawarij tersebut ialah :

  • Al- Muhakkimah

Al-Muhakkimah adalah golongan khawarij asli, bekas pengikut-pengikut Ali, yang kemudian memisahkan diri, dan kemudian menentang Ali. Menurut golongan ini, Ali dan Mu’awiyah serta kedua pengantarnya, yaitu Amr ibn ‘As dan Abu Musa Al-Asy’ari, serta semua orang yang telah menyetujui arbitrase, mereka itu telah melakukan perbuatan salah, karena menyimpang dari ajaran Islam, perbuatan mereka itu membuat mereka menjadi kafir. Selanjutnya hukum kafir ini mereka luaskan artinya, sehingga orang yang melakukan dosa besar pun termasuk orang yang telah kafir. Berbuat zina adalah termasuk dosa besar, karena itu menurut golongan ini orang yang mengerjakan zina, dia telah menjadi orang kafir, dan dikeluarkan dari Islam. Demikian pula membunuh sesame muslim tanpa sebab adalah termasuk dosa besar. Karena itu menurut golongan ini perbuatan membunuh manusia itu membuat si pembunuhnya menjadi orang kafir, dan keluar dari Islam. Demikian pula dengan dosa-dosa besar lainnya.

  •  Al-Azariqah

Golongan ini muncul setelah hancurnya golongan Al- Muhakkimah, dan golongan ini kemudian menjadi lebih besar dan lebih kuat dibandingkan dengan golongan Al- Muhakkimah sendiri. Daerah-daerah kekuasaan mereka terletak di perbatasan antara Iran dan Irak. Nama Al- Azariqah diambil dari nama seorang pemuka golongan ini, yaitu; Nafi’ ibn al-Azraq.

Dalam kitab Al-Farqu baina al-firaq, al-Bagdadi menyebutkan bahwa jumlah pengikut al-Azariqah itu mencapai 20.000 orang. Sebagai khalifah yang pertama mereka memilih Nafi’ ibn al Azraq, dan kepadanya diberi gelar; “Amir al-Mu’minin”. Nafi’ meninggal dunia dalam pertempuran di Irak pada tahun 686 M.

Golongan ini mempunyai sikap yang lebih radikal di bandingkan dengan golongan al-Muhakkimah. Orang yang melakukan perbuatan dosa besar tidak lagi mereka sebut sebagai orang yang kafir, seperti dalam golongan al- Muhakkimah, tetapi mereka sebut sebagai orang yang ‘musyrik’(politeist). Padalah di dalam Islam, musyrik itu merupakan dosa yang paling besar. Musyrik lebih besar dosanya daripada kafir.

Menurut golongan ini, termasuk musyrik juga orang- orang Islam yang sepaham dengan ajaran-ajaran al- Azariqah. Bahkan orang-orang Islam yang sepaham dengan al-Azariqah, tetapi mereka tidak berhijrah kedalam lingkungan mereka, mereka juga dipandang sebagai orang yang musyrik. Dengan kata lain, orang-orang dari golongan al-Azariqah sendiri, apabila tidak mau pindah ke daerah kekuasaan mereka, juga dianggap sebagai orang musyrik.

Selanjutnya al-Bagdadi menyebutkan, bahwa barang siapa yang datang ke daerah mereka, dan mengaku sebagai pengikut al-Azariqah, maka mereka tidak dapat diterima begitu saja, sebelum mereka lulus dalam menjalani suatu ujian, yaitu mau membunuh seorang yang ditawan. Kalau ia telah berhasil membunuh tawanan, maka ia diterima sebagai pengikut al-Azariqah yang baik, tetapi apabila ia tidak berhasil membunuh tawanan tersebut maka ia sendirilah yang harus dihukum bunuh. Keengganan membunuh tawanan itu dianggap sebagai bukti bahwa ia berdusta dan sebenarnya ia itu bukan penganut paham al-Azariqah. Bahkan anak-anak dan istri- istri orang-orang yang demikian pun boleh ditawan, dijadikan budak ataupun dibunuh.

Prof. Dr. Harun Nasution menambahkan, bahwa golongan al-Azariqah ini mempunyai paham, hanya daerah mereka sajalah yang merupakan “Dar al Islam”, sedangkan daerah-daerah Islam lainnya merupakan “Dar al Herb”, atau “Dar al-Kufr”, karena itu wajib diperangi. Dan yang mereka pandang musyrik itu bukan hanya orang-orang yang telah dewasa, tetapi juga anak-anak mereka, mereka pandang musyrik.

Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, golongan al-Azariqah ini jelas mempunyai paham yang sangat ekstrim, sebab menurut paham mereka, hanya mereka sajalah yang sebenarnya Islam. Orang Islam yang berdomisili di luar lingkungan mereka adalah kaum musyrik yang harus diperangi.

Oleh karena itu kaum al-Azariqah, sebagaimana disebutkan oleh ibn al-Hazm, selalu mengadakan “istri’radh”, yaitu bertanya tentang pendapat atau keyakinan seseorang yang mereka jumpai. Kalau orang tersebut mengaku sebagai orang Islam, tetapi tidak termasuk dalam golongan al-Azariqah, maka mereka pun membunuhnya.

  • Al-Nadjat

Nama golongan ini diambil dari nama seorang pemuka dari golongan ini, yaitu; Najdah ibn “Amr al-Hanafi”. Ia berasal dari daerah Yamamah.

Menurut Al-Bagdadi, pada mulanya golongan ini ingin menggabungkan diri dengan orang al-Azariqah, tetapi karena dalam kalangan al Azariqah ini timbul perpecahan, maka mereka tidak jadi menggabungkan diri dengan al- Azariqah. Perpecahan dalam kalangan al-Azariqah itu disebabkan oleh sebagian dari pengikut-pengikut Nafi’ibnal-Azraq, diantaranya ialah Abu Fudaik, Rasyidal- Tawil dan ‘Atiah al-Hanafi, mereka tidak dapat menyetujui paham bahwa pengikut-pengikut al-Azariqah yang tidak mau berhijrah ke daerah lingkungan mereka, pandang sebagai golongan musyrik. Mereka juga tidak setuju dengan paham dalam golongan al-Azariqah, bahwa anak- anak dan istri-istri orang yang tak sepaham dengan golongan al-Azariqah itu boleh dibunuh.

Setelah memisahkan diri dari Nafi’ Abu Fudaik dan kawan-kawannya pergi ke Yamamah. Disinilah mereka dapat membujuk Najdah bergabung dengan mereka dalammenentang Nafi’, sehinggah Najdah dan pengikut- pengikutnya membatalkan rencana untuk hijrah ke daerah kekuasaan al-Azariqah. Selanjutnya Abu Fudaik dan pengikut-pengikutnya Najdah bersatu, dan memilih Najdah ibn ‘Amir al-Hanaf’ sebagai Imam mereka. Mereka tidak mau mengakui lagi Nafi ‘ibn al-Azraq sebagai Imam. Bahkan mereka telah menganggap Nafi’ telah menjadi kafir, dan orang-orang yang masih mengikutinya pun mereka pandang sebagai orang-orang yang kafir juga.

Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, dalam kalangan khawarij, golongan al-Nadjat inilah kelihatan yang pertama kali membawa paham taqiyah, yaitu paham bahwa seseorang boleh saja merahasiakan atau menyembunyikan keyakinannya atau keimanannya, demi untuk menjaga keamanan dirinya dari musuhnya.

Taqiyah menurut pandangan mereka, bukan hanya dalam bentuk ucapan, tetapi boleh juga dalam bentuk perbuatan. Jadi seseorang boleh mengucapkan kata-kata dan boleh melakukan perbuatan-perbuatan yang mungkin menunjukkan bahwa pada lahirnya ia bukan orang Islam, tetapi pada hakekatnya ia tetap penganut agama Islam.

Di kemudian hari terjadilah perpecahan diantara pengikut-pengikut al-Najdat. Perpecahan itu disebabkan oleh sebagian pengikut al-Najdat itu tidak dapat menerima bahwa orang yang melakukan dosa kecil itu bisa menjadi dosa besar.

Tetapi menurut al-Bagdadi, perpecahan di kalangan mereka itu terutama disebabkan oleh pembagian ghanimah (harta rampasan perang), dan sikap lunak yang dilakukan oleh Najdah terhadap Khalifah ‘Abd al-Malik ibn Marwandari dinasti Bani Umayah. Dalam masalah ghanimah, pernah mereka memperolah harta rampasan dalam peperangan, tetapi mereka tidak mengeluarkan seperlima lebih dulu, mereka langsung membaginya untuk orang-orang yang turut dalam peperangan. Hal ini diangapnya bertentangan dengan ketentuan dalam Al- Quran. Dan sikap lunak yang ditunjukkan oleh Najdah kepada Khalifah ‘Abd al-Malik ialah bahwa dalam serangan terhadap kota Madinah,mereka dapat menawan seorang anak perempuan. Khalifah ‘Abd al-Malik meminta kembali tawanan itu, ternyata permintaan itu dikabulkan oleh Najdah. Sikap seperti itu tentu saja tak dapat diterima oleh sebagian pengikut-pengikut mereka, karena Khalifah ‘Abd al-Malik adalah musuh mereka. Dalam perpecahan itu Abu Fudaik, Rasyid al-Tawil, dan Atiah al-Hanafi memisahkan diri dari Najdah. Atiah mengasingkan diri ke Sijistan di Iran, sedangkan Abu Fudaik dan Rasyid al-Tawil mengadakan perlawanan terhadap Najdah. Akhirnya Najdah dapat mereka tangkap dan mereka potong lehernya.

  • Al-Ajaridah

Golongan ini dinamakan Al-Ajaridah, karena mereka itu adalah pengikut dari ‘Abd Karim ibn ‘Ajrad, yang menurut al-Syahrastani, termasuk salah seorang teman dari ‘Atiah al-Hanafi.

Menurut al-Bagdadi, paham al-Ajaridah ini lebih lunak dibandingkan dengan golongan-golongan lain dalam kalangan khawarij. Menurut paham mereka, berhijrah bukanlah merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam sebagaimana diajarkan dalam paham al-Azariqah dan paham al-Nadjat. Bagi mereka berhijrah itu hanyalah merupakan kebajikan saja. Dengan demikian kaum Ajaridah bebas tinggal dimana saja di luar daerah kekuasaan mereka, dan mereka tidak dianggap sebagai orang kafir. Mengenai harta yang boleh dijadikan sebagai harta rampasan perang, menurut mereka, hanyalah harta musuh yang telah mati terbunuh.

Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, kaum Ajaridah ini mempunyai paham puritanisme. Surat Yusuf dalam Al- Quran membawa cerita tentang cinta. Menurut mereka Al- Quran sebagai kitab suci, tidak mungkin mengandung cerita cinta. Oelh karena itu mereka tidak mengakui surat Yusuf sebagai bagian dalam Al-Quran.

  • Al-Sufriyah

Golongan ini dinamakan demikian, karena pemimpin golongan ini ialah Ziad ibn al-Asfar. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, golongan Al-Sufriyah ini mempunyai paham yang agak ekstrim dibandingankan dengan yang lain. Diantara pendapat-pendapat mereka itu ialah :

1)      Orang sufriyah yang tidak berhijrah tidak dianggap menjadi kafir.

2)      Mereka tidak sependapat, bahwa anak-anak orang yang musyrik itu boleh dibunuh.

3)      Selanjutnya tidak semua orang sufriyah sependapat bahwa orang yang melakukan dosa besar itu telah menjadi musyrik. Ada diantara mereka yang membagi dosa besar menjadi dua golongan, yaitu daosa yang diancam dengan hukum dunia, seperti membunuh dan berzina, dan dosa yang tidak diancam dengan hukum dunia, tetapi diancam dengan hukuman karena di akhirat, seperti dosa karena meninggalkan shalat atau puasa bulan Ramadhan. Orang yang berbuat dosa besar golongan pertama, tidak dipandang kafir, tetapi orang yang paham moderat. mereka itu dapat dilihat dari ajaran-ajaran mereka sebagai berikut :

a)      Orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka, mereka itu bukan mukmin dan bukan pula musyrik, mereka itu adalah kafir. Dengan orang Islam yang demikian boleh diadakan hubungan perkawinan dan hubungan warisan. Syahadat mereka dapat diterima. Membunuh mereka haram hukumnya.

b)      Daerah orang Islam yang tidak sepaham dengan golongan al-Ibadiyah,kecuali markas pemerintah, merupakan afar al-tawhid, yaitu daerah orang yang meng-Esakan Tuhan, karena itu daerah seperti itu tidak boleh diperangi. Sedangkan daerah ma’askar pemerintah, bagi mereka merupakan afar al-kufr, karena itu harus diperangi.

c)      Orang Islam yang berbuat dosa besar, mereka sebut oran muwahhid, yaitu orang yang meng- Esakan Tuhan, tetapi ia bukan orang yang mukmin.Dengan demikian orang Islam yang mengerjakan dosa besar, perbuatannya itu tidak membuatnya keluarnya dari Islam.

d)     Harta yang boleh dijadikan ghanimah (harta rampasan), hanyalah kuda dan senjata saja. Emas dan perak harus dikembalikan kepada yang empunya. Tidak mengherankan kalau paham moderat seperti yang digambarkan diatas membuat Abdullah ibn Ibad tidak mau turut dengan golongan al-Azariqah dalam melawan Khalifah Bani Umayah. Bahkan sebaliknya ia mempunyai hubungan yang baik dengan Khalifah Abdul Malik ibn Marwan. Demikian pula Jabir ibn Zaid al-Azdi, pemimpin golongan al-Ibadiyah sesudah Ibn Ibad, mempunyai hubungan yang baik dengan al-Hajjah, yang pada waktu itu sedang giat-giatnya memerangi golongan khawarij yang ekstrim. Oleh karena itu, kalau golongan khawarij lainnya telah hilang dan hanya tinggal dalam sejarah saja, maka golongan al-Ibadiah ini masih ada sampai sekarang dan terdapat di Zanzibar, Afrika Utara, Omman dan Arabia Selatan. berbuat dosa golongan kedua itulah yang dipandang kafir.  Daerah golongan Islam yang tidak sepaham dengan mereka, tidak dianggap sebagai dar al- harb, yaitu daerah yang harus diperangi. Menurut mereka, daerah yang boleh diperangi itu hanya daerahma’askar, yaitu markas- markas pasukan musuh. Anak-anak dan wanita-wanit tidak boleh dibunuh atau dijadikan tawanan.

e)      Menurut mereka kufur itu ada dua macam yaitu : kufr bi inkar al-ni’mah, yaitu kufur karena mengingkari rahmat Tuhan, dan kufr bin inkar al-rububiyah, yaitu kufur karena mengingkari adanya Tuhan. Karena itu menurut mereka, tidak selamanya sebutan kafir itu mesti diartikan keluar dari Islam.

f)       f. Menurut mereka,taqiyah hanya dibolehkan dalam bentuk perkataan saja, dan tidak boleh dalam bentuk perbuatan. Tetapi sungguhpun demikian, untuk menjaga keamanan dirinya, seorang wanita Islam boleh kawin dengan laki- laki kafir, apabila dia berada di daerah bukan Islam.

  • Al-Ibadiyah

Nama golongan ini diambil dari nama seorang pemuka mereka yaitu Abdullah ibn Ibad. Pada mulanya dia adalah pengikut golongan al-Azariqah, tetapi pada tahun 686 M, ia memisahkan diri dari golongan al-Azariqah.

Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, golongan al-Ibadiyah ini merupakan golongan yang paling moderat di bandingkan dengan golongan-golongan khawarij lainnya.Paham moderat mereka itu dapat dilihat dari ajaran-ajaran mereka sebagai berikut :

a)      Orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka, mereka itu bukan mukmin dan bukan pula musyrik, mereka itu adalah kafir. Dengan orang Islam yang demikian boleh diadakan hubungan perkawinan dan hubungan warisan. Syahadat mereka dapat diterima. Membunuh mereka haram hukumnya.

b)      Daerah orang Islam yang tidak sepaham dengan golongan al-Ibadiyah, kecuali markas pemerintah, merupakan afar al-tawhid, yaitu daerah orang yang meng-Esakan Tuhan, karena itu daerah seperti itu tidak boleh diperangi. Sedangkan daerah ma’askar pemerintah, bagi mereka merupakan afar al-kufr, karena itu harus diperangi.

c)      Orang Islam yang berbuat dosa besar, mereka sebut oran muwahhid, yaitu orang yang meng- Esakan Tuhan, tetapi ia bukan orang yang mukmin. Dengan demikian orang Islam yang mengerjakan dosa besar, perbuatannya itu tidak membuatnya keluarnya dari Islam.

d)     Harta yang boleh dijadikan ghanimah (harta rampasan), hanyalah kuda dan senjata saja. Emas dan perak harus dikembalikan kepada yang empunya. Tidak mengherankan kalau paham moderat seperti yang digambarkan diatas membuat Abdullah ibn Ibad tidak mau turut dengan golongan al-Azariqah dalam melawan Khalifah Bani Umayah. Bahkan sebaliknya ia mempunyai hubungan yang baik dengan Khalifah Abdul Malik ibn Marwan. Demikian pula Jabir ibn Zaid al-Azdi, pemimpin golongan al-Ibadiyah sesudah Ibn Ibad, mempunyai hubungan yang baik dengan al-Hajjah, yang pada waktu itu sedang giat-giatnya memerangi golongan khawarij yang ekstrim. Oleh karena itu, kalau golongan khawarij lainnya telah hilang dan hanya tinggal dalam sejarah saja, maka golongan al-Ibadiah ini masih ada sampai sekarang dan terdapat di Zanzibar, Afrika Utara, Omman dan Arabia Selatan.

2.5        I’tikad Kaum Khawarij yang Bertentangan dengan I’tikad Kaum Ahlussunnah Wal Jamaah

 

Pada awalnya munculnya kaum Khawarij hanya mempersoalkan khalifah dan tahkim, namun kemudian merembet – rembet kepada soal – soal i’tiqad dan kepercayaan sehingga dalam dunia islam munculah yang disebut dengan paham kaum Khawarij.

Setiap orang islam harus mengetahui macam dan bentuk paham kaum Khawarij, khususnya yang bertentangan dengan paham Ahlussunnah Wal Jamaah, dengan tujuan agar kita terhindar dari paham yang keliru dari paham Khawarij ini.

Memang golongan Khawarij ini sudah hilang dibawa arus sejarah tetapi pahamnya masih berkeliaran dimana – mana, sehingga kita harus waspada supaya tidak terbawa arus yang tidak sesuai dengan paham Ahlussunnah Wal Jamaah.

Adapun beberapa i’tiqad kaum Khawarij yang bertentangan dengan i’tiqad kaum Ahlussunnah Wal Jamaah adalah sebagai berikut:

  1. 1.         Persoalan Khalifah

Kaum khawarij mengakui khalifah – khalifah Abu Bakar, Umar, dan separuh zaman daru khalifah utsman bin Afan. Pengangkatan ketiga khalifah itu dianggap syah sebab sudah dilakukan dengan “Syura”. Tetapi separuh yang akhir dari khalifah utsman tidak diakui mereka lagi, karena Utsman menyeleweng. Begitu juga khalifah Ali mulanya pengangkatannya syah tetapi kemudian membuat kesalahan besar yakni menerima “Tahkim” dan Ali menjadi kafir karena menerima tahkim itu adalah dosa dan siapa yang membuat dosa menjadi kafir.

Hal ini ditentang oleh kaum Ahlussunah Wal Jamaah karena penyelewengan – penyelewengan yang tidak membahayakan rakyat umum kalau umpamanya betul ia menyeleweng tidaklah menggugurkan pangkat khalifah. Yang menggugurkan pangkat khalifah ialah kalau khalifah itu telah “Tahajur” (dihadapan umum berbuat maksiat) dan menganjurkan rakyat mengikutinya.

 

  1. 2.         Terhadap Ummul Mu’minin Sitti ‘Aaisyah Rda

Kaum kawarij mengutuk dan mencaci maki, kadang-kadang mengkafirkan Ummul Mu’minin Sitti ‘Aisyah. Thalhah dan Zuber bin ‘Awam, karena ketiganya menggerakkan peperangan “jamal” yaitu antara beliau-beliau itu dengan Saidina ‘Ali, begitu juga kaum khawarij menghukum kafir Abu Musa al ‘ari dan ‘Amru bin ‘Ash, yaitu ketua-ketua delegasi pada masa tahkim.

  1. 3.         Cap “Kafir”

Satu keistimewaan I’tiqad kaum khawarij ialah lekas-lekas menuduh “kafir” bagi orang-orang yang tidak suka mengikutinya.

Nafi’I bin Azraq, yang digelari Amirul Mu’minin oleh kaum Khawarij mewafatkan bahwa sekalian orang yang membantahnya adalah kafir yang halal darahnya, halal hartanya dan halal anak istrinya.

Dalil yang mereka pakai untuk pendrian ini ialah firman Allah dalam surat nuh ayat 26-27. Yang  artinya: “ Nuh berdoa: Wahai Tuhanku jangan Engkau biarkan orang-orang kafir itu bertempat tinggal dimuka bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba Engkau, dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu berterima kasih. (  Nuh : 26-27).

Inilah paham yang sangat keterlaluan dari orang-orang Khawarij yang memakai ayat-ayat untuk orang-orang kafir bagi orang islam yang menjadi lawan-lawan politiknya. Kaum Ahlusunnah tidak lekas-lekas mengkafirkan orang lain, walaupun orang itu menentang pendapatnya , karena kalimat “kafir” itu adalah kalimat yang hebat, yang dapat menentukan kecelakaan manusia yang abadi dunia akhirat.

  1. 4.         Ibadat = Iman

Kaum Khawarij berpendapat bahwa yang dikatakan iman itu bukan pengakuan dalam hati dan ucapan dengan lisan saja, tetapi amal ibadat menjadi rukun iman pula.

Barang siapa yang tidak sembahyang, puasa, sholat, zakat dan lain-lain maka orang itu kafir, kata kaum Khawarij.

Pendeknya bagi kaum Khawarij sekalian orang mu’min yang berbuat dosa, baik besar maupun kecil, maka orang itu kafir, wajib di perangi dan boleh dibunuh , boleh di rampas hartanya.

Oleh karena Saidina Mu’awiyah sudah membuat dosa dengan melawan kepada Khalifah yang syah yaitu Saidina ‘Ali Kw. Maka kaum Khawarij mencap Saidina Mu’awiyah dan pengikutnya dengan kafir dan wajib diperangi.

Sitti ‘Aisyah  karena melawan Khalifah Ali, adalah kafir. Demikian pendirian kaum Khawarij.

Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, berpendirian bahwa rukun Iman itu hanyalah dua, yaitu membenarkan dalam hati dan mengikrarkan dengan lisan.

Adapun amal ibadat, seumpama sembahyang , puasa, zakat, dan lain-lain, maka itu untuk kesempurnaan iman. Orang yang sembahyang dan mengerjakan amal ibadat sebaik-baiknya maka orang itu adalah orang mu’min yang sempurna.

  1. 5.         Orang Sakit dan Orang Tua

Kaum Khawarij menfatwakan bahwa orang-orang sakit atau orang yang sudah tua yang tidak ikut perang sabil maka orang itu menjadi kafir, wajib di bunuh.

Paham ini sangat keliru dan k arena itu di tentang oleh kaum Ahlussunnah wal jama’ah. Orang-orang sakit dan orang-orang yang sudah tua tidak wajib pergi perang sabil, karena ia tidak menjadi kafir karena tidak ikut.

Firman Allah dalam surat Al – fath ayat 17 yang artinya:“tidak mengapa bagi orang buta, tidak mengapa bagi orang pincang tidak mengapa  bagi orang sakit (kalau mereka tidak ikut ke medan perang)” (Al Fath:17)

  1. 6.         Dosa Kecil dan Dosa Besar

Kaum Khawarij menfatwakan bahwa sekalian dosa, adalah dosa besar, tidak ada yang namanya dosa kecil atau dosa besar.  Sekalian pendurhakaan kepada Tuhan adalah besar, tidak ada yang kecil menurut kaum khawarij.

Paham ini di tentang oleh kaum Ahlussunnah wal Jama’ah karena di dalam al- qur’an di nyatakan terus terang, bahwa ada dosa besar dan dosa kecil yang di namai “ sai yiaat”.

Firman  Allah dalam surat An – nisa ayat 31 yang artinya:“ jika kamu jauhi larangan-larangan yang besar , kami ampuni saja “sai-yaat”-mu (dosa-dosa kecil).( An Nisa’ :31)

Jadi, sudah terang ada dua macam dosa, satu di namai besar dan yang satu lagi dinamai sai-yiaat yaitu kejahatan kecil

Tuhan menjelaskan di sini,bahwa kaluau yang besar kita jauhi maka yang kecil-kecil atau dosa kecil-kecil diampuni saja,tetapi kalau dosa yang  besar tidak dijauhi maka dosa yang kecil akan dihukum juga.,

Ini suatu  rahmat dari Tuhan kepada Manusia.walaupun mereka berbuat dosa,tetapi dosa itu bukan besar,maka tuhan yang pemurah bisa mengampuni saja.

Dosa-dosa besar itu tidak seberapa,diantaranya yang 7 macam di bawah ini :

  1. Syirik,mempersekutukan Tuhan.ini yang paling besar
  2. Memakai atau menjalankan sihir.
  3. Membunuh manusia tanpa hak.
  4. Memakan atau menghabiskan harta anak yatim.
  5. Memperanakkan uang atau uang riba.
  6. Lari dari medan pertempuran perang sabil.
  7. Menuduh Curang Pada Wanita yang Baik.

Inilah dosa besar,Hampir semua bertalian dengan orang lain.kecuali nomor satu yang bertalian dengan Tuhan. Banyak hadist-hadist Nabi,di mana diperkatakan dosa besar dan dosa kecil.

Fatwa kaum Khawarij nampaknya mempunyai latar belakang yang jahat,yaitu dengan magsud agar sekalian orang Islam lawan-lawannya dapat di perangi dan dapat di rampas hartanya,dengan dalil mereka membuat dosa dan setiap orang berbuat dosa adalah kafir.

Menurut i’tiqad kaum ahlussunnah,bahwa setiap orang islam yang membuat dosa tidak menjadi kafir.ia tetap islam tetapi muslim yang durhaka.

Muslim yang durhaka itu akan dihukum diakhirat untuk sementara dan setelah selesai menjalankan hukumannya akan dokeluarkan dan dimasukkan kedalam syurga.

Tersebut dalam Hadist Bukhori yang artinya artinya:

“Dari Abi Sa’id al khudri,dari Nabi Muhammad SAW,beliau berkata : Maka masuklah penduduk syurga ke syurga dan penduduk nerraka ke neraka,kemudianTuhan berkata (kepada malaikat): kelurkan dari neraka orang-orang yang ada dalam hatinya setimbang biji sawi keimanannya,maka di keluarkan sekalian mereka dsari dalam neraka”. (HSR Bukhori-Sahih Juz 1,hal 11).

  1. 7.         Anak-Anak Orang Kafir

Menurut fatwa kaum Khawarij,bahwa anak-anak orang kafir kalau mati kecil masuk neraka juga,karena ia kafir mengikuti ibuk bapaknya. I’itiqad  ini ditentang oleh kaum Ahlussunnah wal jama’ah yang berpendapat bahwa anak-anak orang kafir yang meninggal selagi ia masih kecil akan dimasukkan kedalam syurga,bukan ke dalam neraka. Hal ini tidak sesuai dengan keadilan Tuhan karena menghukum anak kecil dengan dosa ibu bapaknya.Setiap orang hanya dihukunsesuai dengan  dosanya masing-masing. Dan lagi sewaktu di alam dzar anak-anak orang kafir telah mengakui bahwa tuhan hanya Allah (bacalah kitab-kitab tafsir dalam menafsirkan ayat ke 172 dalam surat Al A’raaf). Anak kecil belum bersalah,walaupun anak orang kafir,begitulah i’itiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah. Melihat faham-faham kaum Khawarij ini ternyatalah bahwa mereka sangat radikal,sangat keras dan keterlaluan. Sifat yang macam ini tidak sesuai dengan kesopanan dan sifat Islam.karena Islam itu diturunkan ke dunia adalah untuk membawa kerahmatan,bukan membawa siksaan,mempunyai kebijaksanaan  bukan serampanga. Oleh karena itu faham Khawarij ini tidak laku dikalangan jumhur ummat Islam di Dunia.

  1. 8.         Orang yang Paling Buruk

Tersebut dalam kitab Hadist Bukhari,bahwa sahabat Nabi Ibnu Umar Rda.berpendapat,bahwa orang-orang Khawarij dan i’itiqadnya adalah orang-orang yang paling buruk. Kami nukilkan dibawah ini apa yang tersebut dalam kitab Hadist Bukhari  yang  artinya: “Dan adalah  sahabat nabi Ibnu Umar Rda.berpendapat,bahwa mereka (kaum khawarij)makhluk allah yang paling jahat,mereka mengambil ayat-ayat Qur’an yang sebenernya turun untuk orang kafir,tetapi dipasangkanya kepada orang mu’min”. (Fathul Bari Juz XV halaman 313).

Dalam menerangkan perkataan ibnu Umar ini,imam ibnu hajar Asqalani menyatakan,bahwa dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Thabari diterangkan,bahwa seorang bernama Asyaj bertanya kepada Nafi’i,bagaimana pendapat Ibnu Umar tentang orang-orang Khawarij yang berkumpul di Haruriyah?Abdullah bin Umar menjawab,bahwa mereka,adalah makhluk yang paling buruk,karena mereka memakai ayat-ayat Qur’an yang sebetulnya menerangkan hal-hal orang kafir dan di pasangkannya kepada orang mi’min. (Fathul Bari Juz 15 halaman 313).                                                         

BAB III

PENUTUP

 

3.1        Kesimpulan

Perang Siffin membawa akibat terjadinya berbagai perubahan, terutama mengenai perubahan system politik kenegaraan dan timbulnya golongan-golongan di kalangan Umat Islam yang satu sama lain saling bertentangan.

Perang Siffin meletus akibat dari politik yang dilakukan oleh Khalifah Usman bin Affan pada masa menjelang akhir pemerintahannya, dimulai dari perang Siffin inilah kaum Khawarij muncul. Persoalan politik terus berlanjut dan bahkan makin berkembang setelah usainya perang Siffin, yang akhirnya membawa kepada timbulnya persoalan- persoalan Theologi.

Golongan khawarij memandang Ali, Mu’awiyah, Amru bin Ash, Abu Musa Al Asy’ari dan lain-lain sudah keluar dari Islam, bahkan dianggap murtad dan wajib dibunuh.

Sesuai dengan firman Allah dalam Surah An-Nisa : 100, Khawarij merupakan suatu kaum yang berhijrah meninggalkan rumah dan kampong halam mereka untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya dan untuk memperolah pahala dari Allah SWT. Kaum Khawarij memisahkan diri dari barisan ‘Ali bin Abi Thalib, karena mereka tidak setuju dengan sikapnya yang menerima tahkim (arbitrase) dalam menyelesaikan persengketaannya dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Akan tetapi dalam pertemuan dengan kekuatan Ali, kaum khawarij mengalami kekalahan besar, tapi akhirnya Ibn al- Muljam dapat membunuh Ali bin Abi Thalib.

Di kemudian hari kaum Khawarij terpecah-pecah dalam beberap sub-sekte, di antaranya ialah : 1) Al-Muhakkimah, 2) Al-Azariqah, 3) Al-Najdat, 4) Al-Ajaridah, 5) Al-Sufriyah, 6) Al- Ibadiyah.

Adapun beberapa i’tiqad kaum Khawarij yang bertentangan dengan i’tiqad kaum Ahlussunah wal Jamaah adalah mengenai persoalan khalifah, terhadap ummul mu’minin sitti ‘aaisyah rda, cap “kafir”, ibadat = iman, dosa kecil dan dosa besar, anak-anak orang kafir, orang yang paling buruk.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aziz Abdul, 1995. Konsepsi Ahlussunnah Wal Jama’ah dalam Bidang Akidah dan Syaria’ah. Pekalongan: CV Bahagia Agency.

Maksum Ali, 1999. Hujjah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Yogyakarta.

http://www.scribd.com/doc/16414215/MAKALAH-KHAWARIJ

http://www.scribd.com/doc/36583135/Makalah-Kuliah-Agama-KAUM-KHAWARIJ

Makalah Pengembangan Instrumen Penelitian

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan mutu suatu penelitian, karena validitas atau kesahihan data yang diperoleh akan sangat ditentukan oleh kualitas atau validitas instrumen yang digunakan, di samping prosedur pengumpulan data yang ditempuh. Hal ini mudah dipahami karena instrumen berfungsi mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga jika instrumen yang digunakan mempunyai kualitas yang memadai dalam arti valid dan reliabel maka data yang diperoleh akan sesuai dengan fakta atau keadaan sesungguhnya di lapangan. Sedangkan jika kualitas instrumen yang digunakan tidak baik dalam arti mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah, maka data yang diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat sendiri. Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrumen yang sudah dianggap baku untuk mengumpulkan data variabel-variabel tertentu.
Dengan demikian, jika instrumen baku telah tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian maka kita dapat langsung menggunakan instrumen tersebut, dengan catatan bahwa teori yang dijadikan landasan penyusunan instrumen tersebut sesuai dengan teori yang diacu dalam penelitian kita. Selain itu konstruk variabel yang diukur oleh instrumen tersebut juga sama dengan konstruk variabel yang hendak kita ukur dalam penelitian. Akan tetapi, jika instrumen yang baku belum tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian, maka instrumen untuk mengumpulkan data variabel tersebut harus dibuat sendiri oleh peneliti.
Dalam rangka memahami pengembangan instrumen penelitian, maka berikut ini akan dibahas mengenai beberapa hal yang terkait, diantaranya pengertian instrumen, langkah-langkah pengembangan instrumen, validitas dan reliabilitas.

RUMUSAN MASALAH
Sebagaimana latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
Apa pengertian instrument penelitian?
Apa saja jenis instrumen penelitian?
Bagaimana kriteria instrumen penelitian yang baik?

TUJUAN RUMUSAN MASALAH
Sebagaiman rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
Apa pengertian instrument penelitian?
Apa saja jenis instrumen penelitian?
Bagaimana kriteria instrumen penelitian yang baik?

BAB II
PEMBAHASAN

PENGERTIAN INSTRUMEN
Instrument penelitian adalah alat – alat yang digunakan untuk memperoleh atau mengumpulkan data dalam rangka memecahkan masalah penelitian atau mencapai tujuan penelitian. Jika data yang diperoleh tidak akurat (valid), maka keputusan yang diambilpun akan tidak tepat.
Instrumen memegang peranan penting dalam menentukan mutu suatu penelitian dan penilaian. Fungsi instrumen adalah mengungkapkan fakta menjadi data. Menurut Arikunto, data merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis, benar tidaknya data tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpulan data.

JENIS – JENIS INSTRUMEN PENELITIAN
Secara garis besar instrument penelitian sosial dan pendidikan terbagi menjadi dua bagian yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan pada latar yang alami (natural setting), lebih memperhatikan proses daripada hasil semata, dan yang terpenting adalah berusaha memahami makna dari suatu kejadian atau berbagai interaksi dalam situasi yang wajar (Bogdan & Biklen, 1982:27-30).
Oleh karena itu instrument yang digunakan bukanlah kuesioner atau tes, melainkan si peneliti itu sendiri. Pemanfaatan manusia sebagai instrument penelitian dilandasi oleh keyakinan bahwa hanya manusia yang mampu menggapai dan menilai makna dari suatu peristiwa atau berbagai interaksi sosial. Menurut Lincoln dan Guba (1985) ada tujuh hal yang membuat manusia menjadi instrument yang memiliki kualifikasi baik, yaiti: (1) responsive, (2) adaptif, (3) holistic, (4) memahami konsep yang tak terkatakan, (5) mampu memproses data secara langsung, (6) mampu mengklasifikasi dan meringkas data dengan segera, (7) mampu mengeksplorasi respon yang khusus dan istimewa. Singkatnya semua alat – alat yang digunakan oleh peneliti kualitatif dalam mengumpulkan data adalah sekedar alat bantu, sedangkan instrument utamanya adalah dirinya sendiri.
Penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif adalah penelitian yang datanya berbasis pada angka yang kemudian diuji dengan menggunakan perhitungan statistik. Dalam hal ini penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) tes, (2) kuesioner, (3) pedoman observasi. Namun bila dikaji lebih jauh, sebagaimana yang akan ditunjukan pada bahasan mengenai tes, akan lebih tepat kalau instrument penelitian dipilahkan menjadi empat bagian, yaitu: (1) tes, (2) inventori, (3) kuesioner, (4) pedoman observasi.
Pemilahan instrument penelitian menjadi empat dipandang lebih tepat, karena masing – masing jenis instrument memiliki karakteristik yang khas. Dalam tes, khususnya tes objektif, dikenal adanya jawaban benar dan salah sehingga dapat diberi skor satu dan nol, masing – masing untuk jawaban benar dan salah. Dalam inventori dan kuesioner jarang ada pernyataan/pernyataan yang dapat dinilai secara benar dan salah.
Kuesioner digunakan untuk menjaring data yang bersifat informative factual, sehingga uji validitas butir secara empirik tidak dapat dilakukan. Akibatnya tingkat reliabilitas instrument yang berupa kuesioner tidak dapat diestimasi dengan menggunakan statistik. Sebaliknya, butir – butir pertanyaan – pertanyaan didalam tes dan inventori wajib diuji validitasnya secara empirik. Antara tes dan inventori ada kemungkinan menggunakan cara yang tidak sama.
Pedoman observasi digunakan oleh peneliti untuk mengumpulksn data yang dapat diamati secara nyata, maka pengujian validitas butir pernyataan dalam pedoman observasi tidak dapat dilakukan secara empirik. Begitu pula tingkat reliabilitasnya tidak dapat diestimasi dengan menggunakan pendekatan statistik.

TES SEBAGAI INSTRUMEN PENELITIAN
Dilihat dari aspek yang diukur , tes dibedakan menjadi dua bagian, yaitu tes non-psikologis dan tes psikologis. Jenis tes psikologis dibedakan lagi menjadi dua macam, yaitu tes psikologis yang mengukur aspek afektif dan tes psikologis yang digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual.
tes psikologis yang dirancang untuk mengukur aspek afektif atau aspek non-intelektual dari tingkah laku umumnya dikenal dengan nama tes kepribadian (personality tests). ”Tes kepribadian” paling banyak digunakan untuk mengukur karakteristik seperti : pernyataan emosional, hubungan interpersonal, motivasi, minat, dan sikap. Tes psikologis jenis inilsh yang dalam bahasan selanjutnya disebut dengan nama inventory
Tes psikologis yang dimaksudkan untuk mengukur aspek kemampuan intelektual disebut dengan nama tes kemampuan (ability tests). Termasuk dalam kategori tes kemampuan ini adalah tes bakat (aptitude tests) dan tes kemahiran (proficiency tests). Tes prestasi belajar (achievement tests) termasuk dalam kategori kemahiran (Joni, 1984: 30).
Agar tes yang kita buat mampu memenuhi ketiga kriteria itu secara optimal, maka dalam penyusunannya haruslah mengikuti prosedur dan melalui proses yang benar. Prosedur yang ditempuh dalam menyusun atau mengembangkan tes kemampuan dalam rangka penelitian pada dasarnya adalah sebagai berikut:
(1) Penetapan Aspek yang Diukur
Dalam pengembangan tes hasil belajar ada dua aspek yang mendapat perhatian, yaitu:
Materi pelajaran
Aspek kepribadian (ranah kognitif, afektif, dan/ psikomotor) yang diukur.
(2) Pendeskripsian Aspek yang Diukur
Pendeskripsian aspek yang diukur tidak lain dari penjabaran lebih lanjut dari definisi operasional variable yang telah dilakukan pada langkah pertama. Untuk penyusunan tes, deskripsi variable ini dituangkan dalam bentuk table spesifikasi atau lebih dikenal dengan nama kisi-kisi tes. Di dalamnya termuat materi pelajaran dan aspek kepribadian yang diukur, bentuk tes dan tipe soal yang digunakan, serta jumlah soal.
(3) Pemilihan Bentuk Tes
Pemilihan bentuk tes di sini ialah tipe soal dilihat dari caranya peserta tes memberikan jawaban dan cara peneliti memberikan skor. Jika peserta tes memiliki kebebasan yang luas dalam menjawab soal-soal tes, maka dikatakan bahwa tes itu adalah tes subjektif (free answer tests). Sebaliknya, jika peserta tes tidak memiliki kebebasan dalam menjawab soal-soal tes, bahkan hanya tinggal memilih dari jawaban yang telah disediakan, maka tes itu disebut tes objektif (restricted answer tests).
Dilihat dari caranya peneliti memberikan skor, tes juga dibedakan menjadi tes subjektif dan tes objektif. Dinamakan tes subjektif apabila pada waktu member skor, peneliti harus memberikan pertimbangan terlebih dahulu terhadap jawaban yang diberikan oleh peserta tes. Setelah itu, barulah ia dapat memberikan skor. Sebaliknya, suatu tes dinamakan tes objektif manakal peneliti dapat memberikan skor secara langsung tanpa harus mempertimbangkan jawaban yang diberikan oleh peserta tes. Hal ini dimungkinkan karena jawaban terhadap tes objektif, terutama model pilihan, sudah bersifat pasti. Singkatnya, perbedaan tes subjektif dan tes objektif dapat dilihat dari dua aspek: (1) dari kebebasan peserta tes dalam menjawab soal-soal tes dan (2) dari caranya memberikan skor.
(4) Penulisan Butir Soal
(5) Perakitan Butir Soal
Perakitan butir soal ke dalam suatu tes didasarkan atas bentuk dan tipe soal yang dibuat, bukan disusun menurut urutan materi pelajaran. Buti-butir soal tes objektif dikelompokkan tersendiri, demikian juga halnya dengan soal-soal tes subjektif.
(6) Pelaksanaan Uji Coba Tes
Kegiatan uji coba instrumen ini dimaksudkan untuk mengetahui: (1) validitas butir soal, (2) tingkat reliabilitas tes, (3) ketepatan petunjuk dan kejelasan bahasa yang digunakan, dan (4) jumlah waktu riil yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tes.
(7) analisi hasil uji coba
Analisi terhadap hasil uji coba tes dimaksudkan untuk mengetahui secara empirik validitas butir soal dan tingkat reliabilitas tes. Ukuran yang digunakan untuk menilai validitas butir soal adalah indeks kesukaran soal (P) dan indeks daya beda soal (D).
(8) Seleksi, Penyempurnaan, dan Penataan Butir Soal
Seleksi atau penyempurnaan butir soal diperlukan karena biasanya selalu ada soal yang tidak memenuhi syarat dilihat dari kriteria tingkat kesukaran dan daya beda soal. Oleh sebab itu, jumlah soal yang ditulis untuk keperluan uji coba selalu harus lebih banyak dari jumlah yang diperlukan. Lazimnya soal yang tergolong mudah sebagian ditaruh di bagian paling awal dari tes, sedangkan yang sebagian lagi ditempatkan di bagian paling akhir.
(9) Pencetakan Tes
Yang perlu mendapat perhatian dalam hal ini antara lain format, jenis dan model huruf yang digunakan. Format tes berkenaan dengan tata letak (lay out) dari soal-soal di dalam tes, sedangkan jenis dan model huruf erat hubungannya dengan besar dan kejelasan huruf yang digunakan. Semuanya ini perlu diperhatikan agar penampilan tes menjadi rapi, “indah”, dan jelas sehingga menarik untuk dikerjakan.
Jika kesembilan tahap dalam penyusunan tes tadi dapat dikerjakan dengan seksama, kiranya peluang untuk mmemperoleh tes yang valid dan reliable akan lebih besar.

PENYUSUNAN INVENTORI
Inventori adalah instrument yang digunakan untuk mengukur karakteristik psikologis tertentu dari individu. Karena itu, inventori sering disinonimkan dengan tes kepribadian. Perbedaan yang Nampak jelas antara inventori dengan tes (kemampuan) ialah dalam hal sifat jawaban yang diberikan. Dalam inventori, jawaban yang diberikan merupakan suatu keadaan yang sewajarnya, suasana keseharian yang dirasakan dan dialami, atau sesuatu yang diharapkan. Dengan kata lain, dalam menjawab pernyataan/pertanyaaan di dalam inventori, orang tidak perlu belajar terlebih dahulu. Cukuplah kiranya jika ia dapat membaca dan/atau memahami hal-hal yang ditanyakan kepadanya. Karakteristik inventori yang demikian itu menuntut tata cara penyusunan yang berbeda dengan tes. Adapun prosedur yang dimaksud adalah:
Penetapan Konstruk yang Diukur
Konstruk menunjuk pada hal-hal yang pada dasarnya tidak dapat diamati secara langsung, seperti persepsi, minat, motivasi, sikap dan yang sejenisnya. Misalnya, variable yang akan diteliti adalah “ sikap nasionalisme siswa SMA”. Dari variable penelitian ini dapat diidentifikasi bahwa konstruk yang akan diukur adalah sikap.
Perumusan Definisi Operasional.
Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat – sifat hal yang didefinisikan sehingga dapat diamati. Adapun cara yang dapat ditempuh untuk menyusun definisi operasional variable jenis ini dikelompokan menjadi tiga bagian yaitu adalah:
Yang menekankan pada kegiatan apa yang dilakukan agar konstruk yang didefinisikan itu terjadi.
Yang memberikan aksentuasi kepada bagaimana kegiatan itu dilakukan, dan
Yang menitikberatkan pada sifat – sifat statis dari konstruk yang didefinisikan.(Suryabrata, 1983:84)
Pendeskripsian konstruk
Ketika langkah kita sudah sampai pada kegiatan merumuskan definisi operasional konstruk (variable) yang akan diukur, seringkali belum dapat secara langsung disusun alat ukurnya. Definisi operasional itu belum mampu menunjukan scara rinci mengenai isi konstruk (variable) yang hendak diukur, sehingga diperlukan adanya deskripsi atas konstruk (variable) tersebut. Untuk mempermudah penyusunan pernyataan dalam inventori, kebanyakan peneliti menuangkan deskripsi konstruk (variable) itu dalam bentuk matrik. Contoh dari deskripsi konstruk (variabel) yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Tabel deskripsi variable sikap nasionalisme
Konstruk Variable Sub – variabel Indikator
Sikap Sikap nasionalisme siswa SMA Cinta dan bangga sebagai bangsa indonesia Gemar menggunakan bahasa indonesia
Suka produksi dalam negeri
Mengembangkan kebudayaan nasional
Rela berkorban untuk kepentingan nasional Mengutamakan kepentingan umum/bangsa
Besedia mengikuti WAMIL
Mau bekerja diseluruh wilayah indonesia
Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa Toleran
Bersedia menerima perbedaan SARA
Bersedia ikut dalam program pertukaran pemuda

Menyusun butir – butir pernyataan
Setelah deskripsi variable dapat dirampungkan, maka penulisan butir – butir pernyataan (items) dalam inventori akan dapat dilakukan secara lebih mudah. Kegiatan menulis pernyataan – pernyataan ini merupakan langkah yang kritis, karena dari pernyataan – pernyataan inilah akan dihasilkan data yang diperlukan. Kualitas penyataan yang dihasilkan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan pengetahuan yang bersifat teoritis, tetapi harus didukung oleh latihan yang terarah, pengalaman yang cukup, kreatifitas dan kesungguhan, disamping faktor kiat yang diimiliki oleh masing – masing peneliti.
Pelaksanaan uji coba
Kegiatan uji coba instrument dalam proses penyusunan inventori mempunyai maksud yang sama dengan pelaksanaan uji coba tes. Bedanya dalam cara atau tekhnik yang digunakan untuk menguji validitas butir pernyataan dan mengestimasi tingkat reliabilitas instrument. Hal ini disebabkan oleh pemberian skor yang bersifat bergradasi.
Seperti halnya tes, subjek uji coba inventori harus memiliki karakteristik yang sama atau identik dengan subjek penelitian. Mengenai jumlah subjek yang diperlukan untuk keperluan uji coba ini berlaku rumus umum yang menyatakan bahwa semakin banyak subjek akan semakin baik. Jika subjek penelitian terbatas, sebaiknya jumlah subjek uji coba inventori tidak kurang dari 30.
Analisi hasil uji coba
Dalam inventori, jawaban responden tidak dapat dinilai benar atau salah, melainkan bergradasi. Oleh sebab itu, validitas butir pernyataan hanya didasarkan atas indeks daya beda soal. Sedangkan perhitungan indeks daya beda soal ini dapat menggunakan tekhnik analisis korelasi atau uji beda nilai rata – rata. Selanjutnya, estimasi tingkat reliabilitas instrument menggunakan rumus penghitungan koefisien Alpha dan Kronbach.
Seleksi, penyempurnaan, dan penataan butir pernyataan
Jarang sekali semua butir pernyataan dalam suatu inventori dinyatakan valid setelah melalui proses uji coba. Pengalaman menunjukan bahwa selalu ada butir – butir pernyataan yang dinyatakan kurang atau tidak valid. Butir pernyataan yang tidak valid perlu diganti, sedangkan yang kurang valid masih dapat dipakai setelah disempurnakan, setelah itu barulah dilakukan penataan butir pernyataan.
Ada satu hal yang perlu ditambahkan dalam penyusunan inventori, yaitu kata pengantar. Lazimnya kata pengantar berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya penelitian. Hal ini penting, untuk menghilangkan ketidakpastian, kecurigaan, dan kehawatiran dalam diri responden, sehingga mereka akan bersedia memberikan jawaban sebagaimana yang diharapkan. Etika penelitian sosial juga menyarankan agar maksud dan tujuan penelitian betul – betul jelas bagi responden sehingga asas informed consent terpenuhi (Smith, 1981:15). Rekomendasi dari instansi yang berwenang (misalnya pemerintah daerah, kanwil depdikbud) dapat dicantumkan sebagai kelengkapan isi kata pengantar. Selain itu jaminan akan kerahasiaan pribadi dan informasi yang diberikan responden penting juga diutarakan pada bagian pengantar. Bagian akhir biasanya berisi ucapan terimakasih atas kesediaan responden untuk membantu menyukseskan pelaksanaan penelitian.

KUESIONER SEBAGAI INSTRUMENT PENELITIAN
Kuesioner dari kata question = pertanyaan, adalah suatu daftar yang berisi serangkaian pertanyaan mengenai suatu hal dalam suatu bidang (Koentjaraningrat, 1980:215). Kuesioner banyak digunakan dalam penelitian pendidikan dan penelitian sosial yang menggunakan rancangan survei, karena ada beberapa keuntungan yang diperoleh, yaitu adalah:
Dapat disusun secara teliti dalam situasi yang tenang sehingga pertanyaan – pertanyaan yang terdapat didalamnya dapat mengikuti sistematik dari masalah yang diteliti.
Penggunaan kuesioner memungkinkan peneliti menjaring data dari banyak responden dalam periode waktu yang relative singkat.
Adapun kelemahan dari instrument kuesioner adalah sebagai berikut:
Sulit bagi peneliti untuk menangkap kejadian atau suasana khusus pada waktu data dikumpulkan.
Kurang memberi keleluasaan untuk mengubah susunan pertanyaan agar lebih cocok dengan alam fikiran atau pengetahuan para penjawab.
Penelitian yang hanya menggunakan kuesioner saja tidak dapat menghasilkan temuan yang mendalam dan utuh.
Adapun cara penyelesaian/mengantisipasi kelemahan diatas adalah dengan cara harus mempertimbangkan kesesuaiannya dengan sifat masalah yang digarap, tujuan yang hendak dicapai, jenis variable penelitian, dan karakteristik subjek penelitian.
Penyusunan kuesioner
Prosedur penyusunan kuesioner hampir sama dengan prosedur penyusunan inventori. Bedanya terlihat pada langkah ke lima, yaitu pelaksanaan uji coba instrument. Dalam penyusunan kuesioner, kegiatan uji coba bukanlah untuk menguji validitas butir pertanyaan secara statistik, melainkan untuk mengetahui kejelasan petunjuk pengerjaan, kekomunikatifan bahasa yang digunakan, dan jumlah waktu riil yang dibutuhkan untuk dapat menjawab semua pertanyaan secara baik. Dengan demikian, prosedur yang ditempuh dalam menyusun kuesioner adalah:
Menetapkan objek yang akan diukur
Merumuskan definisi operasional
Membuat deskripsi dari objek yang diukur
Menyusun butir – butir pertanyaan
Melakukan uji coba
Menyempurnakan dan menata butir – butir prtanyaan dalam satu kesatuan secara sistematis.
Dalam menyusun butir – butir pertanyaan kuesioner ada dua hal yang perlu diperhatikan secara seksama, yaitu jenis pertanyaan yang dipergunakan dan tata urutannya didalam kuesioner. Dilihat dari bentuknya , pertanyaan yang dapat digunakan dalam kuesioner dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
Pertanyaan terbuka (tak tersetruktur)
Pertanyaan tertutup ( terstruktur)
Dan pertanyaan semi terbuka
Pertanyaan terbuka hampir sama pengertiannya dengan soal tes subjektif, yaitu pertanyaan yang jawabannya bersifat luas dan beragam. Dengan kata lain, responden memiliki keleluasaan yang besar dalam merespon. Dalam pertanyaan tertutup, keleluasaan yang demikian itu tidak dimiliki, bahkan kebebasan yang dimiliki responden sangat terbatas, mengingat jawaban terhadap pertanyaan itu telah tersedia. Responden hanya tinggal memilih satu atau beberapa dari alternative jawaban yang ada.
Pertanyaan terbuka cocok digunakan jika peneliti bermaksud untuk memperoleh informasi sebanyak – banyaknya mengenai objek yang diteliti tanpa struktur yang jelas.
Hal kedua yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kuesioner ialah tentang tata urutan pertanyaan yang terdapat didalamnya. Pertanyaan – pertanyaan tersebut hendaknya tidak disusun secara random, melainkan mengikuti suatu pola tertentu. Adapun pola yang dimaksud dalam hal ini adalah dari pertanyaan yang mudah menuju ke pertanyaan yang sukar, dari pertanyaan yag sederhana ke pertanyaan yang kompleks, dari pertanyaan yang bersifat umum menuju ke pertanyaan yang bersifat khusus.
Penggunaan kuesioner
Dalam penggunaan kuesioner ada langkah – langkah yang harus diambil atau yang perlu dilakukan yaitu adalah mengadakan diskusi dengan orang lain yang dianggap tahu dan mampu, misalnya sarjana lain atau pejabat, untuk memberikan kritik yang sehat dan saran – saran perbaikan terhadap kuesioner yang telah disusun. Cara lain yang juga dapat ditempuh ialah melakukan usaha menguji cobakan kuesioner yang telah disusun kepada subjek yang memiliki karakteristik yang identik dengan subjek penelitian yang sebenarnya. Suasan yang meliputi wawancara berkuesioner harus bersifat bebas, tanpa ada perasaan khawatir, curiga atau takut sama sekali,. Ini perlu diingat terutama jika berhadapan dengan masyarakat desa, karena masih banyak diantara mereka yang merasa tidak tentram kalau jawabannya yang diberikannya langsung dicatat diatas kertas oleh peneliti.

PENYUSUNAAN PEDOMAN PENGAMATAN
Pedoman pengamatan (observasi) diperlukan terutama jika peneliti menerapkan pengamatan terfokus dalam proses pengumpulan data. Dalam pengamatan terfokus, peneliti memusatkan perhatiannya hanya pada beberapa aspek prilaku atau fenomena yang menjadi objek sasarannya. Misalkan seorang dosen mengadakan penelitian untuk mendskripsikan kemampuan mengajar para guru SMP di kabupaten Malang. Untuk keperluan ini ia menggunakan alat penilaian kemampuan guru (APKG) sebagai pedoman pengamatan. APKG ini telah menjabarkan secara operasional aspek prilaku yang harus diamati. Untuk kemampuan membuka pelajaran, misalnya aspek prilaku yang diamati adalah sebagai berikut ( Turney, 1973; Abimanyu, 1983).
Kemampuan menarik perhatian, dengan deskriptor:
Gaya mengajar yang bervariasi
Menggunakan alat bantu (media) mengajar
Pola interaksi yang bervariasi
Kemampuan menumbuhkan motivasi belajar, dengan deskriptor:
Bersikaf “hangat” dan antusias
Menimbulkan rasa ingin tahu
Mengemukakan ide yang bertentangan
Memperhatikan minat siswa

Kemampuan memberi acuan, dengan deskriptor:
Mengemukakan tujuan dan batas tugas
Menyarankan tujuan dan langkah yang dilakukan
Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas
Mengajukan pertanyaan
Kemampuan membuat kaitan, dengan deskriptor:
Membuat kaitan antar aspek
Mengaitkan antara yang sudah diketahui dan yang belum diketahui
Menjelaskan konsep lebih dulu, kemudian diikuti dengan penjelasan materi.
Pedoman pengamatan mempunyai karakteristik yang identik dengan pedoman wawancara. Sementara itu prosedur pengembangan pedoman wawancara tidak berbeda dengan prosedur penyusunan kuesioner. Dalam beberapa hal, kuesioner dapat dipandang sebagai pedoman wawancara dalam wujudnya yang sangat rinci. Dengan demikian prosedur penyusunan pedoman pengamatan pada prinsipnya sama dengan penyusunan kuesioner. Dalam penyusunan kuesioner ada 6 tahapan yaitu adalah:
Menetapkan objek yang akan diamati
Merumuskan definisi operasional mengenai objek yang akan diamati
Memuat deskripsi tentang objek yang akan diamati
Memuat dan menyusun butir – butir pernyataan singkat tentang indikator dari objek yang diamati
Melakukan uji coba
Menyempurnakan dan menata butir – butir pernyataan ke dalam satu kesatuan yang utuh dan sistematis.

KRITERIA INSTRUMEN PENELITIAN YANG BAIK
Ada tiga kriteria pokok yang harus dipenuhi oleh suatu instrument penelitian agar dapat dinyatakan memiliki kualitas yang baik. Kriteria tersebut adalah: (1) validitas, (2) reliabilitas, (3) praktikabilitas (Gronlund & Linn, 1997:47). Dua kriteria yang disebutkan pertama perlu mendapatkan perhatian yang seksama dalam pengembangan instrument penelitian. Seperti yang dinyatakan oleh Kerlinger (1973:442), “Apabila seorang peneliti tidak mengetahui validitas dan reliabilitas instrument yang digunakannya, maka sedikit keyakinan yang dapat diberikannya kepada data yang diperoleh dan kesimpulan yang diambil dari data tersebut”.
Validitas
Suatu instrument dikatakan telah memiliki validitas (kesahihan/ketepatan) yang baik ‘ jika instrument tersebut benar – benar mengukur apa yang seharusnya hendak diukur”. (Nunnally, 1978:86).
Ketepatan beberapa alat ukur relative mudah ditetapkan, seperti penggaris untuk mengukur panjang dan timbangan untuk mengukur berat. Validitas instrument lebih tepat diartikan sebagai derajat kedekatan hasil pengukuran dengan keadaan yang sebenarnya (kebenaran), bukan masalah sama sekali benar atau seluruhnya salah.
Validitas mengacu pada ketepatan interpretasi yang dibuat dari data yang dihasilkan oleh suatu instrument dalam hubungannya dengan suatu tujuan tertentu. Sebagai contoh, sebuah tes yang dipakai untuk keperluan seleksi mahasiswa baru mungkin valid untuk tujuan tersebut, namun kurang atau tidak valid untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran di SMTA.
Berkenaan dengan hal tersebut, validitas instrument dibedakan menjadi tiga bagian besar yang dikenal dengan nama validitas isi, validitas kriteria, dan validitas konstruk(Gronlund & linn, 1990; Anastasi, 1988; Kerlinger, 1973)
Validitas isi yang sering juga disebut dengan validitas kurikuler, validitas intrinsik atau validitas kerevrentatipan, diartikan sebagai derajat keterwakilan aspek kemampuan yang hendak diukur di dalam butir – butir instrument. Untuk mengetahui validitas isi suatu instrument ialah dengan jalan membandingkan butir – butir instrument dengan spesifikasi (kisi – kisi) instrument yang merupakan deskripsi dari aspek yang hendak diukur.
Validitas kriteria menunjuk pada seberapa baik suatu instrument mampu memprediksi penampilan di masa datang atau mengestimasi penampilan di masa sekarang. Misalnya, untuk mengetahui validitas prediktif dari tes masuk perguruan tinggi digunakan kriteria prestasi belajar yang dicapai oleh mahasiswa. Dengan demikian, prosedur yang ditempuh untuk mengetahui validitas kriteria ini ialah dengan jalan membandingkan hasil pengukuran dari instrument yang mau diuji validitasnya dengan hasil pengukuran instrumen lain pada tanggal yang kemudian (untuk validitas prediksi) atau dengan hasil pengukuran instrument lain pada masa sekarang untuk validitas konkuren).

Validitas konstruk merupakan hal yang paling sulit untuk diketahui, karena hal ini menunjuk pada seberapa jauh suatu instrument mampu mengukur secara akurat hal – hal yang berdimensi psikologis. Untuk keperluan ini biasanya digunakan analisis faktor, suatu jenis teknik analisis statistik yang tergolong dalam statistik lanjut.

2. Reliabilitas
Diartikan sebagai keajegan (consistency) hasil dari instrument tersebut. Ini berarti, suatu instrument dikatakan memiliki keterandalan sempurna, manakala hasil pengukuran berkali-kali terhadap subjek yang sama selalu menunjukkan hasil atau skor yang sama.
Estimasi reliabilitas instrument dilandaskan pada teori salah ukur (measurement error) ini. Semakin kecil salah ukur (X_c) semakin kecil pula perbedaan skor riil (X_t ) dengan skor sebenarnya, sehingga koefisien reabilitasnya menjadi semakin tinggi.
Ada empat metode yang dapat dipakai untuk mengestimasi tingkat reliabilitas instrument, yaitu : metode tes ulang (test-retest method), (2) metode bentuk setara (equivalent form method), (3) metode belah dua (split half method), dan (4) metode konsistensi internal (internal consistency method).

3. Praktikabilitas
Syarat ketiga yang harus dipenuhi oleh instrument untuk dapat dikatakan baik ialah kepraktisan atau keterpakaian (usability). Instrumen yang baik pertama-tama harus ekonomis baik ditinjau dari sudut uang maupun waktu. Kedua, ia harus mudah dilaksanakan dan diberi skor, dan yang terakhir, instrument itu harus mampu menyediakan hasil yang dapat diinterpretasikan secara akurat serta dapat digunakan oleh pihak-pihak yang memerlukan (Groulund & Linn, 1990)

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Data yang terkumpul dengan menggunakan instrumen tertentu akan dideskripsikan dan dilampirkan atau digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam suatu penelitian.
Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat sendiri. Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrumen yang sudah dianggap baku untuk mengumpulkan data variabel-variabel tertentu.
Instrument penelitian memiliki kualitas yang baik bila memenuhi tiga dari criteria pokok instrument yaitu adalah: validitas, reliabilitas, dan praktikabilitas.
Validitas adalah sejauh mana suatu instrumen melakukan fungsinya atau mengukur apa yang seharusnya diukur. Artinya sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen dalam melakukan fungsinya.
Reliabilitas menunjukkan sejauh mana instrumen dapat dipercaya. Makin cocok dengan sekor sesungguhnya makin tinggi reliabilitasnya. Reliabilitas juga merupakan derajat kepercayaan dimana skor penyimpangan individu relatif konsisten terhadap tes sama yang diulangi.
Praktikabilitas adalah aspek kemudahan pemakaian dari suatu instrument, baik dilihat dari aspek ekonomi,ketersediaan waktu, serta pemanfaatan hasilnya.
Adapun prosedur/tahapan penyusunan dari ketiga instrument penelitian intinya sama. Yaitu adalah:
Menetapkan objek yang akan diamati
Merumuskan definisi operasional mengenai objek yang akan diamati
Memuat deskripsi tentang objek yang akan diamati
Memuat dan menyusun butir – butir pernyataan singkat tentang indicator dari objek yang diamati
Melakukan uji coba
Menyempurnakan dan menata butir – butir pernyataan ke dalam satu kesatuan yang utuh dan sistematis.
DAFTAR PUSTAKA
Dasar – dasar Metodologi Penelitian, JL. Surabaya 6 Malang: lembaga penelitian IKIP MALANG, 1997.
WWW.google.com, Pengembangan Instrument Penelitian.
Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching dengan Penilaian Portofolio untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dalam Pokok Bahasan Persegi Panjang dan Persegi pada Siswa Kelas VII A MTs Negeri Batu Tahun Ajaran 2009/2010, Sofyan Abu Najib, UNISMA: Skripsi 2010.

Makalah Hakikat dan Konsep Pendidikan Seumur HIidup dalam Islam

BAB I
PENDAHULUAN
 

1.1. Latar belakang masalah.

Pendididkan adalah modal utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Dengan pendidikan akan meninggikan manusia dan merendahkan manusia yang lain, manusia akan dianggap berharga bila memiliki pendidikan yang berguna bagi sesamanya.

Masa dari pendidikan sangatlah panjang, banyak orang yang beranggapan bahwa pendidikan itu berlangsung hanya disekolah saja, tetapi dalam kenyataanya pendidikan berlangsung seumur hidup melalui pengalaman-pengalaman yang dijalani dalam kehidupanya. Islam juga menekankan pentingnya pendidikan seumur hidup, Nabi pernah bersabda : Tuntutlah ilmu dari buain sampai meninggal dunia.

Hal ini menunjukan bahwa pendidikan berlangsung tanpa batas yaitu mulai sejak lahir sampai kita meninggal dunia. Selain itu islam juga mengajarkan untuk mempelajari tidak hanya ayat qouliyah saja, tetapi ayat-ayat kauniyah, atau kejadian-kejadian di sekitar kita. Maka jelaslah sudah bahwa pendidikan seumur hidup itu sangat benar adanya didalam kehidupan kita.

1.2. Rumusan masalah.

Dari uraian diatas kita dapat merumuskan bahwa:

1.      Apakah konsep dan dasar pendidikan seumur hidup itu ?

2.      Apakah hakikat pendidikan seumur hidup itu?

3.      Bagaimana implikasi pendidikan seumur hidup ?

 

1.3. Tujuan Masalah

1.      Untuk mengetahui konsep dan dasar pendidikan seumur hidup.

2.      Untuk mengetahui hakikat pendidikan seumur hidup.

3.      Untuk mengetahui Bagaimana implikasi pendidikan seumur hidup.

 BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pngertian Ilmu

      Sebelum melangkah lebih jauh mengenai ilmu maka kita harus mengetahui terlebih dahulu yang namanya ilmu, adapaun pengertian ilmu adalah “Mengetahui hakikat tentang sesuatu secara mendalam dan meyakinkan secara gamblang”.

      Syarat – syarat ilmu agama:                           

1.      Harus mempunyei obyek tertentu yang sesuai dengan aturan agama.

2.      Menggunakan metode – metode.

3.      Menggunakan sistematika tertentu.

4.      Bersifat fraktis.

5.      Sebagai tuntunan bagi  umat – umatnya dalam menjalankan agamanya.

2.2. Konsep dan Dasar Pendidikan Seumur Hidup

     Konsep pendidikan seumur hidup, sebenarnya sudah sejak lama dipikirkan oleh para pakar pendidikan dari zaman kezaman. Apalagi bagi umat islam, jauh sebelum orang-orang barat mengangkatnya, Islam sudah mengenal pendidikan seumur hidup, sebagai mana dinyatakan oleh hadits Nabi SAW yang berbunyi

طلب العلم من المهد الى اللحدا

Artinya: tuntutlah ilmu dari buaian sampai meninggal dunia.

    Azas pendidikan seumur hidup itu merumuskan suatu azas bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses kontinue, yang bemula sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia. Proses pendidikan ini mencakup bentuk-bentuk belajar secara informal, non formal maupun formal baik yang berlansung dalam keluarga, disekolah, dalam pekerjaan dan dalam kehidupan masyarakat.

Untuk indonesia sendiri, konsepsi pendidikan seumur hidup baru mulai dimasyarakat melalui kebijakan Negara (Tap MPR No. IV / MPR / 1970 jo. Tap No. IV/ MPR / 1978 Tentang GBHN) yang menetapkan prinsip-prinsip pembangunan nasional, antara lain :

  1. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (arah pembangunan jangka panjang )
  2. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam keluarga (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. (BAB IV GBHN bagian pendidikan).

Didalam UU Nomor 20 tahun 2003, penegasan tentang pendidikan seumur hidup, dikemukakan dalam pasal 13 ayat (1) yang berbunyi: “Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya”. Jadi dapat pula dikatakan bahwa pendidikan dapat diperoleh dengan 2 jalur, yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan diluar sekolah. Jalur pendidikan sekolah meliputi pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Dan jenis pendidikan ini mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik profesi, vokasi, keagamaan dan khusus.

Sedangkan jalur pendidikan luar sekolah meliputi pendidikan nonformal dan informal. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembalikan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta mengembangkan sikap keprobadian hidup. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan ketrampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan peserta didik.

Pendidikan informal yaitu kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. pendidikan keluarga termasuk jalur pendidikan luar sekolah merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengalaman seumur hidup. Pendidikan keluarga memberikan keyakinan agama, nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan, ketrampilan dan sikap hidup yang mendukung kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kepada anggota keluarganya yang bersangkutan. peserta didik berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan dirinya dengan belajar pada setiap saat dalam perjalanan hidupnya sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing.

“setiap warga Negara berkesempatan seluas-luasnya untuk menjadi peserta didik melalui pendidikan sekolah ataupun luar sekolah dengan demikian, setiap warga Negara diharapkan dapat belajar pada tahap-tahap mana saja dari kehidupanya dalam mengembangkan dirinya sebagai manusia Indonesia “.

Dasar dari pendidikan seumur hidup bertitik tolak atas keyakinan, bahwa proses pendidikan berlangsung selama manusia hidup, baik dalam maupun diluar sekolah.

2.3. Hakikat Pendidikan seumur hidup

Hakikat pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang bertujun untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniah maupun yang rohaniah, menumbuhsuburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah (habluminalloh), dengan manusia (habluminannas), dan dengan alam (hablumminal’alam).

Dengan demikian, pendidikan Islam itu berupaya untuk mengembangkan individu sepenuhnya, maka sudah sewajarnyalah untuk dapat memahami hakikat pendidikan Islam itu bertolak dari pemahaman terhadap konsep manusia menurut Islam, yang sebagaimana disebutkan dalam Al-qur’an surat Al-baqarah ayat 30, bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi ini, dengan esensi bahwa manusia diberi amanah oleh Allah untuk memimpin alam. Dalam hal ini manusia bertugas untuk memelihara dan memanfaatkan alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.

Agar dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah, manusia harus memaksimalkan potensi Jasmani (berkenaan dengan organ-organ fisik manusia) dan potensi rohani (kekuatan yang terdapat dalam batin manusia, yakni akal, kalbu, roh, fitrah, dan nafsu) yang ada dalam diri manusia. Atas dasar itulah apabila dikaitkan dengan hakikat pendidikan yang berperan untuk mengembangkan potensi manusia itu, dikembangkan semaksimal mungkin. Bertolak dari potensi manusia tersebut di atas maka ada beberapa aspek pendidikan yang perlu dididikkan pada manusia, yaitu aspek pendidikan ketuhanan dan akhlak, pendidikan akal dan ilmu pengetahuan, pendidikan kejasmanian, kemasyarakatan, kejiwaan, keindahan, dan ketrampilan. Kesemuanya diaplikasikan secara seimbang.

2.4. Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup .

Implikasi disini diartikan sebagai akibat lansung atau konsekuensi dari suatu keputusan. Dengan demikian maksudnya adalah sesuatu yang merupakan tindak lanjut atau follow up dari suatu kebijakan atau keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup.

Penerapan azas pendidikan seumur hidup pada isi program pendidikan dan sasaran pendidikan di masyarakat mengandung kemungkinan yang luas. Implikasi pendidika seumur hidup pada program pendidikan dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu:

1.      Pendidikan baca tulis fungsional

Program ini tidak saja penting bagi pendidikan seumur hidup dikarenakan relefansinya yang ada pada Negara-negara berkembang dengan sebab masih banyaknya penduduk yang buta huruf, mereka lebih senang menonton TV, mendengarkan Radio, Mengakses internet dari pada membaca. Meskipun cukup sulit untuk membuktikan peranan melek huruf fungsional terhadap pembangunan sosial ekonomi masyarakat, namun pengaruh IPTEK terhadap kehidupan masyarakat misalnya petani, justru disebabkan oleh karena pengetahuan-pengetahuan baru pada mereka. Pengetahuan baru ini dapat diperoleh melalui bahan bacaan utamanya. Oleh sebab itu, realisasi baca tulis fungsional, minimal memuat dua hal, yaitu:

1.   Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi anak didik.

2.   Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya.

2.      Pendidikan vokasional.

Pendidikan vokasional adalah sebagai program pendidikan diluar sekolah bagi anak diluar batas usia sekolah, ataupun sebagai pendidikan formal dan non formal, sebab itu program pendidikan yang bersifat remedial agar para lulusan sekolah tersebut menjadi tenaga yang produktif menjadi sangat penting. Namun yang lebih penting ialah bahwa pendidikan vokasional ini tidak boleh dipandang sekali jadi lantas selesai.dengan terus berkembang dan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi serta makin meluasnya industrialisasi, menuntut pendidikan vokasiaonal itu tetap dilaksanakn secara kontinue.

3.      Pendidikan professional.

Sebagai realisasi pendidikan seumur hidup,dalam kiat-kiat profesi telah tercipta Built in Mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, terminologi dan sikap profesionalnya. Sebab bagaimanapun apa yang berlaku bagi pekerja dan buruh, berlaku pula bagi professional, bahkan tantangan buat mereka lebih besar.

4.      Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan.

Diakui bahwa diera globalisasi dan informasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan IPTEK, telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan masyarakat, dengan cara masak yang serba menggunakan mekanik, sampai dengan cara menerobos angkasa luar. Kenyataan ini tentu saja konsekuensinya menurut pendidikan yang berlangsung secara kontinue (lifelong education).

Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan juga merupakan konsekuensi penting dari azas pendidikan seumur hidup.

5.      Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik

Disamping tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dalam kondisi sekarang dimana pola pikir masyarakat. Yang semakin maju dan kritis, baik rakyat biasa, maupun pemimpin pemerintahan di Negara yang demokratis, diperlukan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga Negara. Pendidikan seumur hidup yang bersifat kontinue dalam koteks ini merupakan konsekuensinya. Dan dimana semua yang namanya ilmu sampai kapanpun akan tetap dibutuhkan apalagi mengingat dengan semakin majunya zaman maka pendidikanpun akan tetap terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

     Pendidikan seumur hidup adalah sebuah system konsep-konsep pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia. proses pendidikan seumur hidup berlangsung secara kontinue, dan tidak terbatas oleh waktu seperti pendidikan formal, proses belajar seumur hidup tidak hanya dilakukan seorang yang terpelajar tetapi semua lapisan masyarakat bisa melaksanakanya.

    Penerapan cara berfikir menurut azas pendidikan seumur hidup itu akan mengubah pandangan kita tentang status dan fungsi sekolah, dimana tugas utama pendidikan sekolah adalah mengajar anak didik bagaimana caranya belajar, peranan guru terutama adalah sebagai motifator, stimulator dan penunjuk jalan anak didik dalm hal belajar, sekolah adalah pusat kegiatan belajar masyarakat sekitar. Sehingga dalam rangka pandangan mengenai pandidikan seumur hidup, maka semua orang secara potensial merupakan anak didik.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Daulay, Haidar Putra, Pndidikan Islam, Kencana : Jakara, 2004

2.      Hasbulloh, Dasar-dasar ilmu pendidikan, Rajawali pers Jakarta, 2001

3.      Mudya Rahardjo, Redja. Pengantar pendidikan, Rajawali pers Jakarta, 2001

4.      Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS, Citra Umbara Bandung, 2003

5.      Internet

 

Menulis Sebagai Terapi

Menulis merupakan kegiatan yang bisa dilakukan siapapun. Anak-anak saja sudah belajar menulis ketika mereka masih dibangku taman kanak – kanak. Hanya saja yang berbeda adalah tujuan menulis itu sendiri, ada yang tujuannya untuk mengerjakan tugas, membuat cerpen, atau sekedar hobby dan untuk mencurahkan perasaan yang memang tidak bisa diceritakan kepada orang lain.Adapun beberapa manfaat dari menulis adalah:

1.      Menghilangkan stres

Dengan menulis kita bisa mencurahkan perasaan kita tanpa takut diketahui orang lain. Tidak semua orang bisa dengan mudah menceritakan masalahnya pada orang lain. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh watak masing-masing orang. Pembagian kepribadian secara tradisional kita kenal ada dua, yaitu introvert dan ekstrovert. Introvert adalah orang yang memiliki tipe kepribadian tertutup, sedangkan ekstrovert adalah orang yang mempunyai kepribadian terbuka. Orang introvert cenderung mengalami kesulitan dalam membicarakan masalahnya kepada orang lain. Menulis diari adalah solusi tepat bagi orang berkepribadian introvert dalam membantu menghilangkan stres serta mengurangi beban pikirannya. Orang yang mempunyai kepribadian ekstrovert memang lebih mudah dalam berbagi dengan orang lain. Namun, bukan berarti orang ekstrovert tidak memerlukan diari sebagai bagian dari terapi. Justru orang dengan kepribadian ekstrovert akan lebih mudah terbuka dan merefleksikan segala yang terjadi dalam dirinya, lebih jujur, dan mudah menemukan berbagai sisi, yang membuatnya dapat menemukan solusi dalam pemecahan masalahnya.

2.      Sebagai media merencanakan target yang ingin dicapai

Diari dapat kita gunakan untuk merencanakan hal-hal apa saja yang ingin kita capai di masa yang akan datang. Perencanaan ini dimaksudkan agar kita dapat meraih target yang diharapkan secara konkret. Dengan menuliskan berbagai hal yang ingin dicapai, itu akan membantu kita dalam memompa semangat dan meraih target tersebut. Kita akan senantiasa teringat setiap kali membuka buku diari, dan merasa berkewajiban untuk segera meraih target. Melalui perencanaan dapat kita analisis kelemahan dan kekurangan kita, serta berbagai hal lainnya yang diperlukan dalam meraih target tersebut.

3.      Untuk menuliskan komitmen

Komitmen merupakan hal pokok yang diperlukan oleh setiap orang dalam meraih segala tujuan. Peneguhan janji dalam bentuk komitmen sangatlah diperlukan supaya kita senantiasa mempunyai tekad yang kuat dalam meraih tujuan kita. Apa jadinya sebuah tujuan tanpa komitmen yang kuat? Berbagai rencana jitu dan ide brilian pun akan menjadi percuma, hanya karena kita tidak mempunyai komitmen. Di saat berbagai rintangan dan hambatan yang menyertai kita, maka hal yang perlu kita ingat agar tidak putus asa ditengan jalan adalah komitmen awal kita dalam meraih tujuan. Dengan menuliskannya, kita akan selalu teringat akan janji awal kita, sekaligus sebagai tameng dalam setiap kendala yang ada.

4.      Sebagai pengontrol target

Menuliskan setiap perkembangan atas semua pencapaian target merupakan langkah selanjutnya setelah kita merencanakan dan berkomitmen dalam meraih setiap target kita. Menulis akan membantu kita dalam melihat hasil dari proses pencapaian usaha, yang kita lihat dengan target yang ingin kita capai. Dengan begitu, kita akan mudah mengetahui arah perkembangan kemajuan yang kita capai. Mengontrol setiap perkembangan yang dicapai akan membuat kita tidak menyimpang dari tujuan semula. Sering kali, dalam pencapaian suatu tujuan, di tengah jalan kita menemukan banyak pengembangan gagasan bahkan halangan dan rintangan dalam mencapai apa yang kita cita – citakan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah alat kontrol yang tepat dalam mencapai target yang diharapkan, yaitu melalui tulisan kita dalam sebuah diary.

5.      Alat memformulasikan ide baru

Dalam perjalanan hidup begitu banyaknya lika – liku, dengan sedkit waktu yang disisihkan untuk sekedar menulis mungkin akan menyegarkan diri kita kembali, yang tadinya sumpek menjadi lebih fres kembali. Selain itu dengan menulis hal – hal yang dianggap penting mungkin saja suatu hari nanti tulisan kita itu akan memicu diri kita dalam menemukan ide – ide baru.

6.      Sebagai gudang inspirasi

Jangan pernah menyepelekan sebuah ide, sekecil dan sejelek apapun ide tersebut. Mungkin saja hari ini kita menganggap bahwa ide yang kita munculkan hari ini ide yang ecek – ecek dan tidak ada gunanya sama sekali bisa jadi ide awal tersebuat menjadi sumber inspirasi kita untuk menemukan sebuah solusi yang kreatif.

7.      Alat penyimpan memori

Sangat jelas sekali bahwa kemampuan manusia untuk mengingat peristiwa, pengetahuan, maupun hal unik lainnya memang sangat terbatas. Orang tentu tidak dapat mengingat semua kejadian yang berlangsung dalam hidupnya sekaligus. Bahkan, manusia jenius sekalipun tentu mengalami kelupaan untuk beberapa peristiwa dalam hidupnya. Keakuratan data dan peristiwa secara detail tidak dapat diingat oleh manusia secara persis. Maka dari itu perlu adanya catatan supaya memudahkan kita dalam melakukan proses mengingat kembali memori yang telah lama tersimpan, dan mengambil hikmah atas setiap kejadian, karena tentu ada hikmah yang dapat kita petik dan dijadikan pelajaran berharga.

8.      Alat memudahkan penyelesaian masalah

Solusi dari suatu permasalahan tidak dapat kita jadikan solusi atas masalah yang lainnya, yanng tentunya berbeda masalah akan berbeda pula cara penyelesaiannya. Namun, setidaknya kita bisa mempelajari teknik pengambilan keputusan yang telah kita buat, dan supaya hal itu mempermudah kita dalam menyelesaikan masalah lainnya.

9.       Sebagai media refleksi dan kebijkasanaan

Menuliskan segala perasaan, masalah, dan konflik yang terjadi dalam hidup akan membuat orang semakin bijaksana. Karena, dengan menulis, terutama menulis diari, secara tidak langsung kita sedang belajar berkompromi dengan setiap masalah yang ada. Belajar memahami masalah dan tidak sekadar mengutamakan ego semata. Semakin banyak kita melibatkan proses menulis dalam menghadapi permasalahan, kita akan semakin peka, tidak terburu-buru, bijakasana, dan mampu menggunakan kepala yang dingin ketika memutuskan sesuatu. Karena, terkadang kita tidak dapat melihat masalah dengan jelas jika kita tidak memetakannya dalam tulisan. Dengan menulis, segala sisi persoalan akan terlihat lebih jelas, dan itu memudahkan kita dalam mencari solusinya.

Membiasakan menulis membuat kita lebih jeli dan terlatih dalam merumuskan dan menyelesaikan sebuah permasalahan. Sehingga, kita tidak akan terjebak pada satu masalah yang ada, tidak merasa tertekan, dan tidak menimbulkan stres yang berakibat negatif bagi diri kita. Dengan menulis beban akan terasa sedikit ringan.

Dari berbagai makalah mengatakan bahwa menulis, terutama menuliskan apa yang menjadi unek – unek/ ganjalan akan sangat membantu diri kita mengurangi stress, menulis dikatakan pula sama faedahnya dengan terapi. Karena, terapi mempunyai fungsi sebagai media penyegaran dan penormalan kembali segala aktivitas tubuh. Oleh karena itu, terapi diri melalui menulis ini akan membuat kita semakin mudah mencerna segala permasalahan dengan lebih mudah dan efektif. Dengan begitu, maka akan mengurangi tingkat stres yang tentu saja mengganggu kinerja tubuh kita. Ketika kita berhasil memecahkan sendiri masalah kita lewat menulis, sesungguhnya kita tidak membutuhkan psikiater maupun psikolog. Psikiater akan membantu kita menyelesaikan permasalahan dari segi medis, sedangkan psikolog akan mendengarkan dan membantu kita dalam mencari solusi yang tepat bagi diri kita sendiri. Yah, jadi kita sendirilah yang harus mencari solusi terbaik atas setiap permasalahan kita, karena kita juga yang lebih tahu akan kondisi sendiri. Orang lain hanya bertugas sebagai pendengar yang baik dan membantu kita agar dapat menemukan solusi sendiri, bukan mencarikan solusi bagi diri kita.

Selain yang dipaparkan dari paparan diatas maka manfaat menulis lainnya adalah sebagai berikut:

1.      Menulis akan mendorong berpikir logis, sistematis dan kreatif

Menulis merupakan proses  mengkaitkan-kaitkan antara kata, kalimat,  paragraf maupun  antara bab secara logis agar dapat dipahami. Proses ini mendorong seorang penulis  harus berpikir secara sistematis dan logis sekaligus kreatif. Ketika seseorang berhasil menulis sebuah artikel, diari, buku, opini , dll, hal ini membuktikan bahwa berfikir logis, sistematis dan kreatif  berfungsi dengan baik pada diri orang tersebut.

2.      Menulis mendorong seorang penulis untuk berinteraksi dengan orang lain.

Setelah seorang penulis menghasilkan karya berupa artikel, cerita ataupun berupa buku, hampir dapat dipastikan  akan ada pembaca yang ingin berinteraksi dengan sang penulis. Inilah salah satu aspek manfaat sosial bagi seorang penulis karena mendorong bagi diri si penulis  untuk berinteraksi dengan orang lain dan menjalin  komunikasi dengan pembaca. Para pembaca tidak selalu harus orang yang tidak dikenal sang penulis , bisa saja orang disekitarnya yang dikenal tapi jarang berinteraksi. Sehingga interaksi  terjadi lewat tanggapan dan apresiasi terhadap hasil karya sang penulis .

3.      Menulis sebagai terapi bathin melalui pelepasan emosional

James Pennebaker membuktikan bahwa menuliskan perasaan – perasaan yang dirasakan akan membawa pengaruh yang positif bagi kesehatan  dengan meningkatnya kekebalan tubuh. Lewat risetnya, ternyata mereka yang menuliskan perasaan – perasaannya melalui  diari (catatan harian) memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik di bandingkan yang tidak. Karena paling tidak masalah yang dihadapinya tertuang dalam sebuah bentuk tulisan yaitu dalam  secarik kertas yang terkumpul. Bahkan bisa jadi tulisan yang dulu kita tulis suatu hari nanti kita membacanya kembali, dan saat itu kita tertawa sendiri dengan tulisan yang kita tulis.

Untuk Pepatah  yang selama ini sering kita dengar yang mengatakan bahwa ”diam itu emas”  bukan kata-kata bijak yang cocok dikala seseorang sedang dilanda stress. Karena bila seseorang stress namun hanya mengurung diri dikamar saja dan tidak melakukan apapun itu justru akan membuat seseorang semakin terpuruk. Dalam kondisi stres, mencurahkan isi hati secara terbuka ternyata dapat meringankan masalah,  konon hingga separonya. Bukan sekadar isu dan kata – kata bohong saja namun anjuran ini dikukuhkan oleh sebuah riset yang dilakukan oleh Pennebaker, seorang ahli psikologi, terhadap ribuan orang dari berbagai usia dan latar belakang. Pennebaker mendapati bahwa mencurahkan isi hati (self-disclosure) dapat berpengaruh positif bagi perasaan, pikiran dan kesehatan tubuh. Bagi orang – orang yang terbuka dan blak – blakan, Membuka diri tidaklah sulit, bahkan hal tersebut mungkin menjadi suatu kebutuhan keseharian dalam hidupnya yaitu dengan cara berbagi cerita, masalah atau apapun dari hati ke hati kepada orang yang sangat dipercayai.  Namun bagi orang – orang yang tertutup mungkin hala tersebut agak sulit untuk menceritrakan segudang permasalahan yang dihadapinya saat itu, untuk mempermudah dan meringankan sedikit beban, tidaka ada salahnya meluangkan waktu untuk menulis secara bebas di catatan pribadi, sebegai pelepas kekesalan, kegundahan atau kesedihan sekalipun. Semoga Bermanfaat….!!!